Indonesia, sebuah negara berkembang dengan penduduk sebanyak 265 juta jiwa menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenass) yang terdiri dari 133,17 juta jiwa laki-laki dan 131,88 juta jiwa perempuan. Menduduki peringkat 4 sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia, Indonesia memiliki potensi yang begitu banyak mulai dari bidang olahraga, pendidikan, sumber daya alam, bahkan hingga potensi dalam sebuah Bisnis. Indonesia tidak bisa dipungkiri menjadi primadona bagi mereka yang ingin menjalankan sebuah usaha, dengan menjadikan Indonesia sebagai target pasar mereka. Hal ini dibuktikan dengan terus meningkatnya angka investasi di Indonesia.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menunjukan bahwa Foreign Direct Investment (investasi asing) sepanjang tahun 2017 lalu tumbuh 8,5% menjadi Rp 430,5 trilliun. Begitu pula dengan angka Domestic Direct Investment (investasi domestik) yang tumbuh sebesar 21,3% menjadi Rp 249,8 trilliun. Jika ditotalkan, maka nilai investasi langsung di Indonesia pada tahun 2017 tumbuh 13,1% menjadi Rp 678,8 trilliun. Fakta ini menunjukan bahwa dari tahun ke tahun Indonesia memiliki daya tarik yang begitu besar dan tidak ada habisnya sehingga dapat terus meningkatkan angka investasi.

Bahkan menurut laporan AT Kearney yang juga menggaet Google dalam melakukan kajian tentang Indonesia Venture Capital Outlook 2017, Indonesia mengalami peningkatan pada jumlah investasi yang masuk ke startup asal Indonesia yang mencapai angka 68 kali lipat dalam lima tahun pada 2016 yang menyentuh angka US$ 1,4 milliar. Yang lebih membuat takjub lagi pada tahun 2017, nilai tersebut meningkat dua kali lipat menjadi US$ 3 milliar. Di Asia, Singapura dan Indonesia menjadi gerbong utama investasi startup meskipun tetap Amerika Serikat menjadi pusat perhatian startup di dunia.

Ketika semua orang berbicara tentang sektor bisnis e-commerce yang sedang digemari dan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Indonesia, ternyata terdapat empat sektor bisnis lain yang mungkin kelak bisa “booming” di masa yang akan datang.

 

FINTECH

Fintech merupakan akronim untuk Financial Technology (teknologi keuangan). Fintech adalah sebuah inovasi baru dalam bidang keuangan yang akan menciptakan sebuah layanan keuangan yang lebih baik lagi untuk konsumen dan bisnis. Fintech Indonesia memiliki berbagai macam jenis, seperti pembayaran, peminjaman, perencanaan keuangan, investasi ritel, pembiayaan, remitansi, dan riset keuangan. Kementerian Koperasi dan UKM pada tahun 2016 mengidentifikasi bahwa ada tiga masalah penting terkait pemanfaatan keuangan oleh masyarakat, yaitu inklusi keuangan, literasi keuangan dan financial deepning. Dengan melihat tiga permasalahan ini dan dengan diikuti tumbuhnya masyarakat kelas menengah ke atas, bukan tidak mungkin sektor bisnis (Fintech) ini akan “meledak” di masa yang akan datang.

 

ON-DEMAND SERVICE

Apa itu On-Demand Service? Secara sederhana sistem On-Demand adalah sistem pelayanan yang didasarkan pada pemintaan konsumen. Berangkat dari permintaan diri sendiri akan sebuah kebutuhan, membuat ranah bisnis ini menjadi begitu banyak diminati oleh investor dan pengusaha yang ingin merambah sektor tersebut. Sebut saja nama yang sudah tidak asing di telinga kita seperti GojeK dan Grab yang begitu populer karena permintaan akan layanan transportasi pada masyarakat begitu tinggi. Selain itu, layanan On-Demand ini memiliki proses yang sangat amat fleksibel dan begitu praktis untuk digunakan didukung dengan kecenderungan masyarakat Indonesia yang konsumtif. Bukan tidak mungkin akan semakin banyak dan berkembangnya sektor bisnis tersebut.

Baca Juga: Langkah Mudah Mengubah Ide Menjadi Bisnis Digital Sukses

CLOUD COMPUTING

Mungkin Cloud Computing masih terdengar asing di telinga kita. Atau malah sebaliknya, banyak dari kita yang sudah familiar dengan istilah tersebut. Istilah Cloud Computing atau komputasi awan adalah gabungan dari pemanfaatan teknologi komputer dan pengembangan berbasis internet. Semua data disimpan di server internet, tanpa harus memiliki bentuk fisik memory card pada umumnya untuk melakukan penyimpanan. Dalam survei yang dilakukan oleh KPMG kepada 500 eksekutif menyebutkan sekitar 54% dari mereka mengharapkan Cloud Computing dapat meningkatkan produktivitas serta kepuasan dari karyawan mereka. Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, dan setiap orang berkeinginan data yang mereka miliki aman terlindungi. Tidak bisa dipandang sebelah mata dengan perbaikan yang terus dilakukan pada sistem Cloud Computing,  akan bisa menjadi suatu trend di kemudian hari.

 

SOFTWARE AS A SERVICE (SaaS)

Pada tahun 2017, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mencatat bahwa UMKM yang sudah ada di Indonesia ialah sebanyak 59,2 juta. Dengan 8% dari total UMKM tersebut yakni sebanyak 3,79 juta sudah memanfaatkan platform online untuk memperjual-belikan produknya. Dengan harapan akan lebih banyak UMKM yang akan ­go-online dan memanfaatkan SaaS sebagai layanan Cloud mereka. Contoh yang mungkin ketahui tentang Saas ini adalah seperti Google Apps (Docs, Spreadsheet,dll, Office 365, dan Adobe Creative Cloud. Pada penggunaan SaaS ini user hanya perlu menggunakan aplikasi tanpa harus mengerti dan mengurus bagaimana data disimpan, serta maintanance yang dilakukan, karena hal tersebut merupakan service yang disediakan penyedia layanan.