Kebanyakan HRD melakukan pendekatan Job Interview dengan cara yang salah. Untuk mengenali kandidat yang berbobot tidak hanya smart, berikut adalah pertanyaan interview yang lebih baik untuk ditanyakan.

Karena pertanyaan interview yang bisa ditanyakan tidak terbatas, hampir semua pertanyaan tersebut dapat diringkas dalam dua kategori: Pertanyaan terkait kompetensi atau pertanyaan terkait karakter. Pertanyaan Kompetensi ditujukan unutk mengetahui skill, kemampuan, dan kualifikasi seseorang; sementara pertanyaan terkait karakter dimaksudkan untuk menampilkan nilai intrinsik dan kepribadiannya. Meskipun kedua tipe pertanyaan tersebut penting, “Kita terlalu bias terhadap sisi Kompetensi,” terang Anthony Tjan, seorang konsultan bisnis dan CEO dari Cue Ball Group, perusahaan VC di Boston. “Dan kita mengesampingkan atribut penting seperti kejujuran, belas kasih, dan kebijaksanaan.”

“Apa kelemahan terbesar anda?” adalah pertanyaan karakter yang sering ditanyakan, tapi itu adalah pepesan kosong. Pewawancara sering merasa berkewajiban untuk menanyakannya karena jawabannya, jika jujur, mungkin bisa berguna. Namun pada kenyataannya, respon yang sering muncul – “Saya orangnya terlalu detail,” “Saya bekerja terlalu keras” dan “Saya terlalu peduli” – telah dilatih, mudah ditebak, dan direkayasa. Dan saat kandidat sadar bahwa mereka merasa kurang membantu atau jujur saat membuat statement seperti itu, mereka juga takut memunculkan kekurangan mereka sebenarnya.

Perusahaan perlu menemukan cara untuk mengevaluasi karakter dari calon karyawan. Tjan, yang juga seorang penulis dari buku Good People: The Only Leadership Decision That Really Matters, percaya penyaringan sifat seperti Integritas, kerendahan hati, rasa syukur, dan mawas diri adalah kunci kepuasan karir dan kesuksesan. “Tak ada elemen yang lebih penting daripada orang-orang dan value untuk keunggulan kompetitif jangka panjang,” jelasnya. “Dan mereka kritis terhadap perkembangan tujuan dan arti dibalik Organisasi apapun.” Jadi para perekrut harus berusaha untuk menanyakan pertanyaan interview yang tidak bisa dijawab secara general atau klise.

Pertanyaan Karakter nomor 1: “Apa satu atau dua sifat dari orang tua anda yang ingin sekali anda terapkan bagi anda dan anak-anak anda seumur hidup anda?” Tujuannya adalah untuk membuat percakapan yang mengarah ke keterbukaan, bukan sekedar yang sudah dilatih, ujar Tjan. Pertanyaan ini memantik sedikit lebih banyak pemikiran bagi pelamar dan menyoroti hal-hal yang mereka paling hargai. Setelah mendengarkan respon dari orang tersebut, Tjan mengatakan anda harus segera memfollow up dengan “Apakah anda bisa menceritakan lebih lanjut?” Hal ini penting jika anda ingin mengorek jawaban yang lebih dalam dan mempunyai bobot. Dan jika anda kurang sabar dengan keheningan orang tersebut, “berusahalah nyaman dengan jeda yang berisi” ungkap Tjan. “Dengan bersabar dan mempersilakan mereka untuk berbagi, seringkali akan mengarahkan anda ke jawaban yang lebih baik.”

Baca Juga: 7 Apresiasi Sederhana Untuk Selalu Membahagiakan Para Karyawan Anda

Pertanyaan Karakter nomor 2: “Berapa 25 dikali 25?” Tjan ingin melihat bagaimana orang bereaksi dibawah tekanan yang real-time, dan respon mereka akan menunjukan anda bagaimana pendekatan mereka terhadap situasi yang menantang atau awkward. Apakah mereka akan menjadi defensif, malu atau malah marah? Atau mereka orang yang open-minded dan tidak keberatan untuk memecahkan masalahnya? Dan juka seorang kandidat menyerah atau menjawab dengan salah, Tjan suka untuk kembali menanyakannya dengan angle yang berbeda: “Bayangkan saja anda punya 25 koin quarter (25 sen atau seperempat dollar) di kantong anda – berapa totalnya?” tujuannya bukanlah untuk mengecek seseorang bagus dalam matematika, jelasnya. “Tujuannya adalah mengetahui apakah merekah bisa mengatasi rasa malu dan ketidaknyamanan dan bekerja bersama saya. Saat seseorang dalam pekerjaan, mereka tidak akan selalu berada di situasi yang membuat mereka nyaman.”

Pertanyaan Karakter nomor 3: “Ceritakan mengenai tiga orang yang hidupnya berubah secara postif berkat anda. Dan apa yang akan mereka katakan jika saya menelponnya besok?” Menurut Tjan mengecek referensi biasanya memang buang-buang waktu. Tentu saja, mereka telah dipilih dan diset untuk memuji seorang kandidat. Maka, ia pikir akan lebih informatif untuk mencari tahu tentang orang-orang yang telah dibantu secara personal oleh sang kandidat. Tidak harus mantan rekan kerja, bisa saja saudara, teman sekelas, tetangga atau teman. Perusahaan membutuhkan karyawan yang dapat mengangkat satu sama lain. “Dan jika kandidat tidak dapat menyebutkan seorang pun, Saya ingin tahu kenapa” ujar Tjan. Ia berpikir bahwa sebagian besar kesuksesannya adalah berkat dari hubungan – baik sebagai Mentor dan yang di mentori – yang ia miliki di hidupnya. Saat seseorang mempunyai bakat sebagai mentorship atau cenderung ke arah sana, ini akan menjadi sebuah efek domino bagi institusi. “Saya telah mempelajari bahwa orang seperti itulah yang menyebabkan organisasi berbeda,” tambahnya.

Pertanyaan Karakter nomor 4: Setelah interview, tanyakanlah pada diri anda (atau anggota tim lain, jika memungkinkan) “Apakah saya bisa membayangkan membawa orang ini pulang untuk berlibur?” mungiin yang satu ini terasa terlalu personal, namun “anda mencoba membangun hubungan dengan mereka,” terang Tjan. Meskipun anda belum menghabiskan banyak waktu dengan orang tersebut, biasanya anda akan mempunyai firasat untuk pertanyaan ini. “Saat saya menanyakan ini kepada beberapa kolega, saya mendapat lebih banyak respon ya/tidak yang lebih mendalam daripada saat melalui Checklist Kompetensi,” katanya.

Pertanyaan Karakter nomor 5: Setelah Interview, tanyakan kepada security atay receptionist: “Bagaimana interaksi kandidat tersebut dengan anda?” Sadar bagaimana orang memperlakukan orang asing – yang dimaksud adalah apa mereka bertingkah dengan sopan dan terbuka dan melihat orang lain sederajat. Tjan kenal satu perusahan dimana Pewawancara meminta security untuk mendelay kandidat selama 10 menit untuk melihat reaksi mereka. “Tapi saya tak tahu apakah saya akan melakukan sejauh itu,” tambahnya.

Baca Juga: 7 Karakter Karyawan yang Harus Ada Dalam Perusahaan Anda

Merekrut good people lebih dari sekedar kesuksesan perusahaan. Memenuhi organisasi dengan orang-orang berbobot lebih dari sekedar memperbaiki rasio retensi atau profit anda, terang Tjan. Hal ini dapat memberi efek berantai saat karyawan anda berinteraksi dengan dunia, meskipun impact nya sulit untuk diukur dan dideteksi. Dan memang pertanyaan karater di sini ditujukan untuk Job Interview, kita semua mendapatkan benefit dengan mempertanyakan: “Peran apa yang bisa saya mainkan untuk dapat menjadi Pengaruh positif bagi orang lain?”

Source Ideas.ted.com