Semua UKM mempunyai kesulitan yang sama: Bagaimana menyelesaikan banyak hal dengan waktu dan resource yang minim.

Jika anda adalah perusahaan yang terdiri dari dua, atau lima, atau bahkan dua belas orang, kemungkinan besar setiap orang yang terlibat mengenakan ‘banyak topi’ atau bertanggung jawab lebih dari satu hal. Banyak hal yang mesti dilakukan tapi seakan kita masih kekurangan tangan.

Dan hal tersebut pun memunculkan paradox ayam dan telur, karena jelas bahwa lebih banyak waktu dan resource akan membuat marketing menjadi lebih mudah, namun untuk mendapatkan hal tersebut anda butuh lebih banyak uang untuk dikeluarkan dan harus mengejar revenue untuk dapat melaksanakan marketing dan medapatkan lebih banyak customer.

Dan beginilah kasusnya

Untuk menggerakan jarum, anda perlu mengeluarkan Investasi.

Entah anda harus lebih berusaha lebih keras lagi dan menginvestasikan lebih banyak waktu secara internal, atau anda mengeluarkan uang dan mempekerjakan seseorang dari luar.

Namun hal itu dengan asumsi bahwa waktu yang anda dan tim anda habiskan sudah dihabiskan untuk sesuatu yang tepat. Namun sejujurnya, seringkali para pebisnis UKM pada akhirnya melakukan kesalahan yang malah merugikan mereka.

Jadi bagaimana agar usaha kecil anda menghasilkan hasil yang besar?

1. Jangan Coba ada dimana-mana sekaligus

Hal ini jadi hal yang sulit dipahami tidak hanya bagi bisnis UKM melainkan untuk bisnis yang sudah besar, hal ini karena godaan channel-channel marketing yang juga kuat.

Dengan banyaknya Channel gratis, sangat mudah jatuh dalam perangkap pemahaman bahwa kita perlu ada di semua channel tersebut sekaligus.

Namun pada akhirnya, dengan mencoba ada dimana-mana, nyatanya kita malah tidak mencapai manapun. Memposting konten yang kurang berisi hanya untuk dianggap ‘ada’ di setiap platform tidaklah menghasilkan apa-apa. Dan sesungguhnya, sangat jauh lebih baik jika anda memilih satu platform dan all out menjadikan platform tersebut resource yang berguna bagi industri anda.

Anda tidak mau hanya sekedar ada bukan? Anda harus menjadi suara yang didengarkan di platform tersebut.

Baca Juga: 3 Hal yang dibutuhkan setiap Blog Perusahaan untuk Membangun Audience yang Loyal

2. Maksimalkan kekuatan Karyawan anda

Hal ini termasuk dalam diskusi besar terkait millenial dan apa yang mereka harapkan dari sebuah tempat kerja: mereka ingin memberikan value unik, dan mempunyai rasa kepemilikan terhadap pekerjaan yang mereka kerjakan.

Namun banyak perusahaan yang akhirnya malah membatasi kebebasan para karyawannya. Mereka takut membiarkan intern(yang lulusan desain namun kebanyakan dipekerjakan sebagai akun manager) menjalankan akun instagram mereka, dengan sekedar alasan bahwa mereka ingin agar bisa memantain control.

Hal yang kurang bijak.

Jika seperti itu, lebih baik kenalilah bakat dan skill set dari karyawan anda dan berikan mereka projek yang lebih sesuai dengan passion mereka.

Tanyakan, apakah anda memang ingin menjalankan Akun Instagram anda sendiri? Apakah anda Fotografer yang cakap? Apakah anda mempunyai interest untuk melakukan hal tersebut? Tidak, Tidak, dan kemungkinan besar anda tidak mau. Maka mulai tugaskan intern anda (yang menyukai fotografi), jelaskan paramater umum apa-apa saja konten-konten yang poantas dan kemudian berikan mereka kebebasan berkreativitas.

Anda akan mempunyai halaman akun yang lebih baik. Dan karyawan pun juga akan mempunyai rasa kepemilikan dan menikmati pekerjaan mereka – dan tentu saja membangun loyalitas mereka. Dan pada akhirnya menguntungkan bisnis anda.

Kenali kekuatan tim kecil anda dalam memasarkan UKM
Kenali kekuatan tim kecil anda dalam memasarkan UKM

3. Jangan memberikan janji yang tidak bisa anda tepati – kepada audience dan karyawan anda.

Tahukah anda yang membunuh antusiasme atau morale, baik secara internal maupun external, yang lebih cepat dari hal apapun?

Janji yang tak dipenuhi.

Bisnis kecil kehilangan banyak sekali momentum saat mereka menggembor janji yang tidak bisa mereka tepati – seperti contohnya, “Kita akan membagikan newsletter setiap Senin, Rabu, dan Jumat! Subscribe di sini!”

Namun nyatanya yang terjadi, tentu saja, resource semakin menipis, janji tersebut digembor saat tidak ada yang benar-benar paham mengenai Time Investment, para subscriber pun marah karena janji yang membuat mereka sign up tidak dihargai, dan anggota tim merasa down dan gagal.

Mulailah dari hal kecil, dan penuhilah janji kecil tersebut.

4. Berpikirlah dalam bentuk ‘Kategori’ dalam menghasilkan konten.

Ini adalah nasihat dari yang sehari-harinya membuat konten, Nicolas Cole, saya pribadi mengikuti berbagai tulisannya yang sangat bermanfaat dan ini salah satunya yang saya bagikan ke anda. Dan menurutnya salah satu cara terbaik adalah membagi-bagi konten dalam bentuk kategori.

Otak kita cukup kesulitan untuk lompat-lompat antara tugas satu ke tugas lainnya. Jadi jika anda membuat konten anda sendiri, jangan menguras pikiran anda dengan konten secara individu dan terpisah. Membuat gambar Quote, menulis blog post, lalu menulis caption di Facebook dan kemudian merekam Video, semua urutan tersebut terasa melelahkan.

Maka sebaiknya, lihatlah setiap konten tersebut sebagai kategori mereka. Maka contohnya, sediakan waktu untuk menulis blog post dalam satu minggu, kemudian hari berikutnya rekamlah semua video untuk minggu berikutnya, dan sebagainya.

Saat anda mengelompokan konten-konten tersebut, anda akan dapat menemukan flow anda dan bergerak lebih cepat. Tapi ketika anda melakukan start dan stop diantara konten yang berbeda-beda, pada akhirnya anda akan membuang banyak waktu secara percuma.

Baca Juga: Bagaimana Pemasaran Efektif Untuk UKM Berbasis Online???

5. Sediakan waktu untuk mempelajari bagaimana beriklan di Facebook

Beberapa hal memang layak untuk outsourcing.

Namun saat anda melihat channel yang mempunyai peluang bertahan lama, seringkali lebih baik untuk mendapatkan skill set tersebut untuk diri anda sendiri.

Facebook advertising telah mngkukuhkan diri sebagai yang penting untuk segala kegiatan channel marketing. Namun apa yang membuatnya berbeda dari platform lain yang sudah ada (Media Cetak, TV, dan Billboards) adalah bahwa siapapun dapat menggunakannya. Bayangkan saja, dengan media cetak kita harus membeli space dari majalah, koran dll. TV, anda harus melalui network atau penyedia jasa untuk dapat membeli di network tersebut. Namun dengan Facebook, cukup dengan log in anda sudah dapat memulai campaign anda – belum lagi cost yang dikeluarkan yang jelas jauh berbeda.

Dan karena Digital, beriklan di Facebook juga trackable – dan sudah tak perlu dijelaskan bahwa targeting Facebook sangatlah powerful.

Namun, Facebook adalah salah satu platform yang bisa disebut “very easy to use and yet difficult to master”. Jadi, jangan berharap bahwa hanya dengan klik dua button kemudian anda akan mendapatkan ROI yang besar. Tapi anda perlu menyadari bahwa platform ini layak untuk dipelajari agar anda dapat memanfaatkannya untuk bisnis anda.