Akhir-akhir ini media Instagram cukup populer dipakai sebagai media promosi untuk berbagai jenis bisnis, mulai dari fashion, kosmetik, jasa fotografi, kuliner kelas berat hingga makanan ringan seperti pentol dan kerupuk ūüôā Promosi tersebut tidak hanya menampilkan produknya di akun Instagram dia sendiri tapi juga memakai jasa endorser yang mempunyai banyak follower untuk mempromosikan bisnisnya di akun Instagram¬†endorser.

Tarif¬†endorse sendiri bervariasi mulai dari yang free, mungkin¬†karena masih coba-coba bisnis “endorse”, sampai yang bernilai jutaan rupiah. Makin banyak follower-nya dan makin terkenal dia, tentu makin mahal tarifnya.¬†Apalagi dia seorang artis, pasti makin mahal. Berikut gosip tarif endorse¬†beberapa artis terkenal di Indonesia :

  • Ashanty : 5 juta
  • Aurel Hermansyah : 3 juta
  • Ricky Harun : 2 juta
  • Gempita (anak Gisel) : 5 juta
  • Audi Marisa : 2,3 juta
  • Zaskia Adya Mecca : 4.5 juta (foto), 5,5 juta (video)
  • Dan sebagainya

Yang menjadi pertanyaannya adalah “Apakah Anda yakin kalau¬†endorse ke akun dengan¬†follower banyak, otomatis bisnis Anda makin dikenal banyak orang¬†?”

Pada faktanya : Jumlah follower tidak menjamin endorsement bisnis Anda berhasil !!

Ketika perusahaan digital agency kami, AlphaNext, sedang mendapat salah satu klien yang cukup besar di Jakarta, kami mencoba melakukan analisa bagaimana klien kami endorse ke beberapa artis Instagram sebelum mereka menggunakan jasa digital marketing kami.

Coba perhatikan berapa yang Like dan Comment ? Dari total follower dia sebanyak 13.900, yang komentar hanya 8 dan yang suka hanya 913 saja. Dari yang like dan comment, apakah Anda yakin mereka ada yang beli tas tersebut? Bahkan dari komentar-komentar mereka, tidak ada satupun yang bertanya tentang tas -nya, padahal dia sedang endorse tas. Mereka lebih komentar cantiknya dia dan celananya hehe.. Masih yakin ada yang beli ? Padahal followernya lumayan banyak loh.

Contoh kedua..

Dari total follower dia sebanyak 26.700, yang komentar hanya 22 tapi yang suka lumyan ada 1288 saja. Tapi seberapa yakin bahwa banyak tas yang terjual melalui endorse ini?

Baca juga 10 Macam Bisnis di Instagram Yang Bisa Anda Dirikan

Saya punya rumus sederhana dalam menghitung “Nilai Engagement

Nilai Engagement = (Banyaknya komentar / Total follower) x 100%

Contoh 1 :
Nilai Engagement-nya = (8 / 13900) x 100% = 0.058 %

Contoh 2 :
Nilai Engagement-nya = (22 / 26700) x 100% = 0.082 %

Mengapa hanya komentar yang dihitung? Kita asumsikan saja bahwa orang yang komentar lebih tertarik daripada sekedar like. Kalaupun mau dihitung jumlah like-nya juga tidak masalah.

Jadi kesimpulannya adalah jumlah follower dan teknik foto yang bagus tidak menjamin nilai engagement-nya bagus pula. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memilih endorser yang tepat ? Berikut ada 5 tips yang bisa saya bagikan berdasarkan pengalaman saya sebagai digital marketer.

1. Lihat track record dia sebagai endorser

Coba lihat di timeline dia, apakah dia pernah melakukan endorse untuk sebuah bisnis atau produk juga ?
– Jika pernah ada, apakah hasilnya memuaskan? Coba hitung dengan rumus di atas.
– Apakah dia pernah endorse produk atau bisnis yang sejenis dengan kita? Bagaimana hasilnya? Bisa jadi untuk produk jenis X dia bagus, tapi belum tentu bagus untuk produk jenis Y.
РJika dia belum pernah memberikan jasa endorse sama sekali, coba perhatikan poin-poin saya selanjutnya.

2. Apakah endorser punya interaksi yang baik dengan follower-nya?

Biasanya kalau endorser jarang ngobrol dengan follower-nya, hasilnya kurang memuaskan juga. Tapi tidak selalu juga, karena masih ada poin penting lainnya di bawah. Jika sang endorser biasa interaksi dengan follower-nya, biasanya follower-nya lebih sering komentar dan sebagainya.

Contohnya ini.. Kalau dihitung dengan rumus tadi, nilai engagement-nya sekitar 0,3%. Nilainya masih sangat baik apalagi dengan jumlah komentar segitu banyaknya. Pertanyaannya mengapa nilainya bisa lebih tinggi ?

  1. Karena interakasi dia bagus dengan follower-nya
  2. Dia menggunakan¬†copywriting atau¬†caption yang menarik. Dia menggunakan bahasa “Suroboyoan” yang menjadi ciri khas dari¬†follower-nya yang mayoritas adalah orang Surabaya. Dan¬†caption-nya juga lucu ūüôā
  3. Di semua posting dia, dia selalu memberikan caption yang agak panjang seperti orang bercerita. Dan ini cukup menarik.
  4. Di akhir¬†caption dia selalu memberi “Call To Action” (CTA) yang mengajak¬†pembaca untuk melakukan sesuatu. Biasanya dia tulis “Tag koncomu seng omahe sekitar daerah jemur andayani” (tag temanmu yang rumahnya di sekitar Jemur Andayani) atau dia tulis “Tag koncomu seng doyan panganan ala korea” (tag temanmu yang suka makanan ala Korea) dan sebagainya.

 

Baca juga Mengenal Calon Konsumen Dari 10 Tipe Pengguna Instagram

3. Apakah dia mempunyai hobi yang serupa dengan bisnis Anda?

Misal makanan. Jika dia hobi wisata kuliner, dan sering endorse makanan, dia bisa jadi pilihan yang tepat. Karena pengguna Instagram akan mencari referensi tentang makanan ke dia. Daripada kita endorse ke artis yang jarang wisata kuliner, apalagi dia kurang punya interaksi dengan follower-nya.

Atau yang biasa hobi olahraga dan punya tubuh atletis yang sering juga posting suplemen atau alat olahraga. Dia akan menjadi referensi yang bagus bagi mereka yang ingin olahraga atau mempunyai tubuh yang sehat.

Ketika mereka endorse sebuah produk atau bisnis akan tampak sangat alami, karena mereka memang mempunyai hobi dalam hal tersebut. Timeline mereka memang dipenuhi dengan posting-an seperti itu.

Iklan yang bagus adalah iklan yang tidak tampak seperti iklan

4. Endorser yang bertolak belakang dengan produk bisnis kita bisa menjadi alternatif.

Nah kalau yang ini unik juga. Kadang sesuatu yang sifatnya kontroversial akan menarik perhatian orang. Hal ini akan sering kita jumpai ketika¬†Pilpres atau Pilkada berlangsung. Ketika seseorang¬†public figure yang tidak pernah terlibat dalam dunia politik, tiba-tiba¬†“endorse”¬†(bisa jadi dia melakukan dengan sukarela) ke sebuah pilihan, tentu ini akan sangat mengundang reaksi penikmat Instagram dia.

Atau contoh lain, seorang komedian endorse obat jerawat. Atau, maaf, seseorang yang wajahnya kurang elok¬†bisa jadi¬†endorser¬†yang bagus untuk¬†fashion. Koq bisa ?? Mengapa? Karena fokus pembaca bukan pada¬†orangnya tapi pada produknya ūüôā Dan faktor “keterkejutan” itu akan menarik perhatian.

Coba cek Instagram para artis yang cantik atau tampan, biasanya fokus para pembaca adalah pada oraangnya bukan produknya. Lihat contoh saya di atas juga, komentar bukan untuk tas-nya yang keren tapi ke hal-hal lainnya.

5. Apakah endorser bersedia posting video ?

Video saat ini lebih bagus dalam engagement, karena lebih menarik perhatian orang untuk klik, karena orang tidak bisa melihat isi dari video sebelum dia klik. Kalau foto, orang sudah bisa menikmati secara langsung tanpa perlu klik. Apakah endorser bersedia pakai video.

Kadang video tidak tidak harus ketika dia menikmati atau memakai produk Anda, bisa juga dia hanya berkeliling di pabrik atau toko Anda. Atau dia sedang mewawancarai Anda ūüôā

Akhir kata saya cuma ingin mengulang statement saya :

Iklan yang bagus adalah iklan yang tidak tampak seperti iklan

Semoga artikel ini membantu Anda menemukan endorser yang tepat.

 

Ingin mendapat ilmu dan pengetahuan luar biasa dari para expert Instagram marketing? Dan mendapatkan berbagai SUPER Tools untuk Bisnis anda di Instagram Ikuti Workshop Instagram Online Shop & Ecommerce Mastery yang Satu ini >> http://bit.ly/digiasiacom