Akuisisi dalam dunia bisnis sudah menjadi hal yang lumrah, apalagi dalam dunia start up maupun bisnis digital, seringkali start up yang berhasil dirintis dari nol pada akhirnya akan diakuisisi oleh perusahaan yang sudah lebih besar, atau malah mengakuisisi perusahaan lain. Terlepas dari akuisisi dan penjualan yang sebenarnya sangat menguntungkan dari berbagai sisi, tak bisa dipungkiri jika para staf dan karyawan adalah yang bakal paling repot untuk penggabungan perusahaan tersebut. Bergantung pada value dari perusahaan yang mengakuisisi (atau yang anda akuisisi), selalu ada kultur, dinamika, bahkan infrastruktur yang jelas berbeda.

Apalagi dalam bisnis digital, jika anda memutuskan untuk bergabung dengan bisnis konvensional tentunya kultur dan kebiasaan akan bisa terlihat jelas. Start up terutama yang bergerak di dunia digital terkenal dengan kultur bekerjanya yang sangat fleksibel, terutama di early stage, jika start up ini akhirnya berkembang dan besar, tentunya kultur perusahaan yang lebih konvensional sedikit banyak akan diterapkan. Apalagi jika pada akhirnya harus terjadi proses akuisisi, maka perlu sosialisasi yang lebih mendalam kepada kedua belah pihak perusahaan.

Karyawan menjadi pihak yang sangat perlu diperhatikan dalam proses akuisisi

Agar proses akuisisi dan integrasi berjalan semulus mungkin untuk para karyawan, anda sebagai eksekutif mempunyai beberapa pilihan. Tentu saja, jalur yang ditempuh nantinya bergantung pada seberapa besar dua perusahaan yang akan bergabung, sumberdaya yang tersedia, dan waktu yang ditentukan untuk benar-benar terintegrasi.

Baca juga: Promosi Efektif Untuk Bisnis Online

Untungnya, ada beberapa cara agar anda bisa mulai curi start soal merger karyawan anda, yang membutuhkan resource minimal dan tak perlu waktu berbulan-bulan.

Tiga Tips untuk Persiapan Merger

  1. Buka pintu untuk komunikasi. Seperti halnya skenario eksekutif lainnya, komunikasi dengan team dan karyawan sangatlah diperlukan. Saat desas-desus akuisisi memasuki kantor, banyak karyawan yang akan khawatir tentang phk, shift kerja, sistem gaji, tim, dll. Cara terbaik untuk mengatasi problem tersebut tentu saja adalah dengan melakukan komunikasi yang jujur tentang bagaimana integrasi baru tersebut merubah hal-hal yang ada di permukaan.
  2. Siapkan proses untuk audit internal. Saat perusahaan baru bergabung dengan anda (atau perusahaan anda lah yang baru), melakukan audit internal terhadap kondisi terkini di tempat kerja selalu dapat membantu. Hal ini juga berarti survey tertutup tentang tingkat kebahagian di tempat kerja, ide-ide dalam menyatukan dua perusahaan, atau masalah-masalah yang perlu diperhatikan lebih jauh. Para eksekutif juga dapat memebuat laporan kinerja, melakukan review, dan mendapatkan keyakinan untuk kedua tim/perusahaan sebelum selesai pindahan.
  3. Jadi yang pertama untuk menerima perubahan. Perubahan itu Sulit, terutama bagi seseorang yang hidupnya sudah melekat dengan suatu hal. Karyawan anda mungkin akan khawatir terhadap akuisisi/merger, tapi anda dapat memberi contoh. Tunjukan kemauan anda untuk bekerja dengan tim/perusahaan lain, dan kembangkan hubungan dengan orang-orang yang sebentar lagi akan bekerja sama dengan anda.

Baca Juga: Entrepreneur Sukses akan Membangun Hubungan dengan 4 Orang ini

Tentu saja, banyak hal lain yang juga bisa dilakukan sebelum kegiatan merger selesai. Saat surat-surat telah ditandatangani dan hal-hal mulai berubah, tim atau karyawan anda akan mulai melihat anda untuk mengetahui hal apa yang perlu dilakukan.

Yang perlu dilakukan setelah Merger Selesai

Tergantung dengan beberapa variable, seperti perusahaan mana yang sedang diakuisisi, adakah pindahan yang dilakukan, dan apakah downsizing (PHK) dibutuhkan, langkah awal mungkin akan membuat tim anda sedikit gugup. Untuk melancarkan semua setelah proses akuisisi selesai, anda dan eksekutif lainnya dapat:

Menjaga jalur komunikasi tetap terbuka. Akan ada banyak sekali naik turun dan permasalahan dalam (yang saat ini) satu organisasi. Maka menjadi tugas anda dan eksekutif baru anda untuk mengatasi masalah, menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan membuat struktur baru yang memungkinkan untuk komunikasi yang terbuka. Berikut yang bisa dilakukan:

  • Jadwalkan beberapa meeting untuk tim
  • Ijinkan survey tertutup, feedback, dan pertanyaan-pertanyaan
  • Ciptakan dialog yang sopan dengan anggota team yang berselisih

Mengetahui bahwa proses integrasi itu membuat karyawan tertekan adalah hal yang krusial; hormati problem mereka dan mereka akan sedikit merasa lebih nyaman.

Perlebar audit internal. Tentukan dengan tim anda tanggal akhir untuk memberi tanda selesainya proses merger. Jadwalkan hari dan waktu dimana anda mengharapkan produktivitas dan output seperti halnya pada sebelum merger atau bahkan lebih baik dan lanjutkan survey tertutup serta mereview karyawan anda. Dengan cara ini, terbentuklah struktur dan goal yang spesifik. Para karyawan akan mengapresiasi kembalinya keadaan normal dan akan mengerti dengan jelas ekspektasi anda.

Buatlah sebuah kultur perusahaan baru. Beri dorongang terhadap karyawan anda untuk bekerja dengan anggota tim yang baru. Jadwalkan “fun time”, seperti:

  • Pelatihan Team Building
  • Happy hours atau makan siang bersama
  • Waktu ngobrol yang tak direncanakan
Para Eksekutif perlu jadi perekat untuk puzzle yang baru digabung ini

Tentu saja, idenya adalah membiarkan tim/karyawan anda yang baru bergabung dapat mengembangkan hubungan mereka secara organik, tapi sedikit bantuan dapat membuat percakapan lebih mengalir. Sebagai eksekutif, memastikan rekan-rekan kerja kita benar-benar berkomunikasi dan bekerja sama adalah kunci untuk mengembalikan bisnis menjadi normal.

Baca Juga: 5 Tips Membangun Komunitas Bisnis Online

Perubahan itu Menakutkan

Tidak diragukan memang bahwa merger dapat membuat semua orang merasa sedikit kurang stabil. Dari permasalahan-permasalahan tentang phk, penurunan pangkat, rekan baru yang berselisih, karyawan anda tentu saja akan merasakan bahayanya. Sebagai eksekutif (dan sebegai sebuah team eksekutif yang baru digabung), adalah tugas anda untuk memastikan karyawan merasa stabil, merasa didengar dan mengetahui bahwa ini adalah kesempatan untuk berkembang. Sebuah merger tidak harus menjadi momok, tapi semua itu dimulai dari Leadership.

Pada akhirnya proses merger dan akuisisi adalah untuk diuntungkannya kedua belah pihak