Apakah anda pernah bekerja sama dengan Influencer? Atau berencana melakukannya?

Agency di mana sebelumnya saya tergabung di dalamnya, pernah menggunakan jasa influencer dulu di tahun 2016. Dan jujur saja hasilnya kurang dari apa yang kami harapkan.

Namun hari ini, influencer marketing atau orang-orang Indonesia biasa menyebutnya endorsement menjadi chanel paling menjanjikan untuk dimasukkan ke sebuah portofolio agency.

Kenapa begitu?

Nyatanya, memang ada momen dimana influencer bekerja dengan sangat baik

Jika anda tidak mendapat hasil secara langsung, bukan berarti anda harus meremehkan influencer selamanya.

Mungkin anda tidak menggunakan influencer yang tepat. Mungkin anda tidak merancang konten dengan cara yang benar. Atau mungkin bukan saat yang tepat bagi brand anda untuk mengadakan kerja sama tersebut.

Apapun kasusnya, influencer marketing merupakan cara yang sangat berguna untuk menjangkau audience baru dan mengedukasi mereka mengenai produk anda.

Berikut adalah hal yang perlu anda perhatikan selagi anda terjun didalamnya

Pahami bahwa hal berbayar/paid bukan berarti tidak otentik

Sering terdengar, “Ah, saya gak akan pernah bayar seorang influencer/endorser untuk bekerja sama.”

Saya paham apa yang sebenarnya coba mereka sampaikan – bahwa kerjasama tersebut dianggap tidak otentik. Namun Paid Marketing tetaplah paid marketing. Apakah juga tidak otentik untuk membayar Facebook Ads atau mengirim email direct?

Bagaimanapun, saya mengetahui kerja sama dengan influencer yang berbayar maupun tidak berbayar melalui agency saya sebelumnya. Dan dapat dikatakan bahwa klam ketidak otentikan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Karena hubungan kita dengan influencer seharusnya memang dua arah. Kita seharusnya bekerja sama dengan influencer yang memiliki passion dengan brand kitam dan yang benar-benar suka serta menggunakan produk kita.

Anda harus ingat bahwa influencer juga mewakili brand mereka sendiri. Influencer yang baik biasanya ingin mempromosikan produk atau isu yang mereka sendiri percaya atau gunakan.

Meskipun mereka dibayar untuk kerja sama tersebut, tetaplah penting bagi perusahaan dan produk untuk sesuai dengan brand mereka. Jadi, adalah hal yang normal jika pada akhirnya tercipta situasi dimana influencer benar-benar suka dengan produk anda dan bertindak sebagai advokasi yang sesungguhnya untuk brand anda.

Dan hal tersebut sangatlah otentik.

Baca Juga: 8 Hal paling Hits tentang Media Sosial di Tahun 2018

Audience mereka harus sejajar dengan demografi yang ingin anda jangkau.

Contoh yang menarik adalah ThirdLove sebuah brand untuk Bra yang juga bekerja sama dengan banyak influencer.  Saat meluncurkan sebuah Bra untuk ibu hamil yang biasa disebut Maternity Bra, mereka menggunakan influencer dan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.

Dengan sebuah produk spesifik tersebut, tujuan kategori customernya cukup jelas yaitu ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan. Mereka ingin memastikan bahwa orang-orang yang masuk dalam komunitas tersebut mengetahui perilisan produk mereka. Maka, mereka sangat bergantung pada influencers karena ibu hamil seringkali mengikuti blogger, podcast, atau influencer lain yang juga sedang dalam masa kehamilan.

Hal tersebut membentuk komunitas yang real, dan mereka pun dengan sukses masuk ke dalamnya melalui partnership yang mereka jalankan.

Jika anda ingin influencer marketing anda berhasil, anda harus mengetahui terlebih dahulu siapa yang ingin anda jangkau.

Bagaimana Demografi target anda? Apa yang biasa mereka dengar? Apa yang biasa mereka tonton? Siapa yang mereka anggap sebagai figur yang menurut mereka bisa diandalkan?

Temukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan anda akan lebih mudah untuk menemukan influencer bagi produk anda.

Nilailah keberhasilan berdasarkan revenue dan engagement.

Influencer marketing adalah tentang menciptakan hubungan dengan seseorang yang akan menjadi ‘penjaga’ brand anda kedepannya.

Untuk menilai keberhasilan hubungan tersebut bergantung terhadap beberapa hal. Yang pertama adalah revenue yang anda hasilkan dari hubungan tersebut. Revenue tersebut tidak dapat dilacak sepenuhnya, namun anda dapat menggunakan kode atau link khusus untuk mendapatkan perkiraan yang tepat dari berapa banyak orang yang membeli karena kerjasama anda.

Ketahuilah, jumlah audience yang terbesar belum tentu menghasilkan jumlah penjualan yang terbesar pula.

Karena itu anda juga harus memperhatikan kualitas dari engagement mereka

Dan itu bukan hanya tentang berapa like yang didapatkan di sebuah Post Instagram. Melaikan berapa banyak komen yang masuk dan isi dari komentar tersebut. Hal ini terkait tentang apakah post yang mereka buat benar-benar meyakinkan orang utnuk mencoba produk anda.

Tanyakan pada diri anda: Apakah kita dapat merasakan pesan influencer secara organic? Apakah kita mampu menjangkau audience baru dan mengedukasi mereka mengenai misi kita? Apakah kita dapat melakukan percakapan yang meaningful dengan mereka?

Baca Juga: Bagaimana Cara Kerja Algoritme Instagram?

Ini adalah tentang menciptakan sebuah hubungan yang organik

Kadang unpaid influencer malah menciptakan engagement yang lebih kuat, pada saat tersebut kita dapat menawarkan mereka untuk melakukan paid partnership dengan kita dengan lebih mendalami lagi produk dan audience yang coba kita raih.

Tidak ada “resep rahasia” untuk membuat hubungan kita dengan Influencer bekerja dengan baik. Banyak yang telah sukses bersama influencer dari berbagai kalangan, dari mulai artis hingga para youtuber atau selebgram.

Influencer marketing seperti halnya aspek lainnya pada bisnis anda. Butuh waktu untuk mengetahui mana yang berfungsi paling baik. Anda harus terbuka dalam perkembangan, mencoba hal baru, dan bahkan mencobanya lagi jika hal tersebut tidak berhasil saat percobaan pertama.