Siapa yang tak kenal Unicorn yang satu ini, GO-JEK. Berawal dari sebuah call center yang membantu para commuters untuk mendapatkan tukang Ojek pada tahun 2010, perusahaan ini awalnya tak mengalami perkembangan yang signifikan, hingga pada tahun 2014 (setelah Uber dan Grab, memasuki Indonesia dengan car-sharing service nya) akhirnya para investor mulai tertarik dengan ide Ojek On demand-nya.

Saat ini, Go-jek masih menjadi salah satu start-up paling panas di Indonesia, mendapatkan status Unicorn dan merupakan sebuah perusahan teknologi konsumer terbesar di Indonesia.

Founder Go-Jek,  Nadiem Makariem pun sempat menerima penghargaan Asian of The Year Award pada tahun 2016 dari The Strait Times, dan akhir-akhir ini perusahaan ini mendapatkan aliran dana lagi dari salah satu raksasa internet Tiongkok Tencent sebesar US$ 1.2 milliar. Go-Jek sendiri juga merupakan pemenang dari fintech award yang dianugerhakan oleh Bank Indonesia pada Juli 2017.

belajar dari gojek
Nadiem Makarim – Founder GoJek

Dan seperti yang sudah kita raskan juga Go-Jek sangatlah berpengaruh besar pada perekonomian di Indonesia. Hal ini diamini juga oleh kepala Dinas Perekonomian Jakarta:

“Yang Pasti Go-Jek telah merubah kebiasaan Orang-Orang”

Dan artikel ini saya tulis berdasarkan sebuah pengalaman seorang Professor dan Pengusaha Erik P. M. Vermeulen dari Tilburg Law School yang sangat excited akan eksistensi Go-Jek di Indonesia. Dia ingin membuat dunia aware akan Go-Jek. Apa yang spesial dari Go-jek? Apa yang membedakan nya dengan Uber atau Grab, dimana kedua kompetitor ini juga telah meluncurkan ojek online juga di Indonesia? dan yang menarik bagi dia, bukan hanya penhargaan atau pencapaian Go-Jek.

Baca juga : Kreatifitas Tanpa Batas Alamanda Shantika Santoso

Dia menjawabnya dengan jawaban pendek yaitu karena Go-Jek telah memahami dan menerapkan tiga hal paling penting untuk memulai dan mengembangkan usaha di Era Digital:

     1.       Bangun sebuah Ekosistem

Bangun bisnis sebagai Ekosistem terbuka dan inklusif yang menarik users dan mennghubungkan semua stakeholders.

    2.       Andalkan Teknologi untuk menghasilkan Inovasi yang Konstan

Fokus dalam mendesain produk dan jasa inovatif yang akan mengumpulkan berbagai macam teknologi dan menghasilkan sebuah pengalaman user yang melekat dan susah untuk ditolak.

     3.       Beradaptasi dengan Lingkungan

Adaptasikan Produk dan Jasa yang solid kepada demand yang spesifik di Lingkungan lokal bisnis tersebut beroperasi.

Hal ini merupakan hal inti dari sebuah “Startup culture” dan dengan mengadopsi tiga strategi ini, sebuah bisnis dapat menaruh sebuah budaya- “business DNA”, jika itu anggapan anda-yang inovatif, dinamis dan memaksimalkan peluang untuk sukses di Era Digital.

Baca juga : Pentingnya Personal Branding Untuk Promosi Bisnis Online

Mari kita lihat tiga elemen tersebut lebih detail, seperti apa pengaruhnya pada kasus Go-Jek.

Ekosistem

Go-Jek jelas-jelas bukanlah sebuah “Ride Sharing Company”. Faktanya, Go-Jek bukanlah company/perusahaan secara tradisional. Go-Jek berbeda dari Organisasi traditional yang mengurus aset dan pekerja dengan proses dan prosedur yang pasti dan statis.

Go-Jek mengambil pendekatan yang berbeda. Founder nya mempunyai pandangan visioner tentang bagaimana memanage dan mengembangkan usaha. Itu merupakan Visi perusahaan yang bertujuan untuk meminimalisir hal-hal yang mematikan energi dan Ide-ide (pikirkan seperti Birokrasi, peraturan dan hirarki):

“Semakin Besar kita berkembang, semakin longgar kontrol yang bisa kita lakukan. Kita mengijinkan team dan leader yang berbeda untuk berjalan dengan cara mereka sendiri. Leader team bebas untuk mengembangkan cara manajemen mereka sendiri, asalkan dapat mencapai target mereka.”

Hasilnya mengaggumkan. Go-Jek telah menjadi ekosistem yang dinamis dan subur tanpa adanya perbedaan horizontal atau vertikal, atau malah perbedaan jelas antara pihak dalam atau luar bisnis Go-Jek.

Go-Jek seakan mengetahui bahwa tantangan saat ini adalah memobilisasi kapasitas dan resource dari semua stakeholders dan menghubungkanya dengan gaya organisasi yang kolaboratif dan inklusif. Hal ini menghasilkan pilihan dan produk yang lebih baik, dan juga menciptakan working enviroment yang membuat bisnis untuk merekrut dan mempertahankan staff terbaiknya.

Pendekatan leadership yang berdasarkan Freedom and Responsibility dapat menghidupkan aliran ide, bakat, dan pendapatan baru yang konstan dan terus menerus di dalam sebuah ekosistem.

Hal ini telah membuat Go-Jek sebuah ekosistem menarik yang menawarkan lebih dari sekedar jasa ride-sharing app. Saat membuka aplikasinya dalam smartphone kita, user dapat memilih segudang produk dan Jasa. Termasuk diantaranya Go-Ride, Go-Car, Go-Send, Go-Food, Go-Mart, Go-Box, Go-Glam, Go-Clean, Go-Massage, Go-Tix, Go-Med.

Pada tahun 2016, ekosistem ini telah memiliki lebih dari 250,000 driver roda dua dan roda empat, 3,000 penyedia jasa, dan 35,000 merchant Go-Food.

Pola perilaku dan interaksi antara semua yang terlibat (termasuk investor dan partner) dalam ekosistem telah menciptakan sebuah budaya simbiosis dan timbal balik yang mengaggumkan.

Tidak hanya tentang bagaimana mereka yang terlibat dalam ekosistem tersebut bertemu, berbicara, percaya, berbagi, berinteraksi, berkolaborasi, bergabung, bereksperimen, dan berkembang bersama. Go-Jek merupakan sebuah Ekosistem jika dalam ranah biologi ibarat “kumpulan organisme” yang berinteraksi di Lingkungan tertentu.

Baca juga : Entrepreneur Sukses akan Membangun Hubungan dengan 4 Orang ini

Hal ini mendorong sebuah “win-win solutions” yang bahkan bisa menguntungkan kompetitor Go-Jek. Contonya saja, operator taxi terbesar di Indonesia, Blue Bird, pada akhirnya berpartner dengan Go-Jek. Competitor lain, terutama perusahaan logistic, sadar bahwa mereka juga harus memperbaiki dan mengembangkan service mereka.

 Mengembangkan Usaha Ala Go-jek

Teknologi

Yang dipahami Go-Jek adalah ekosistem yang paling berhasil di Era Digital selalu fokus dalam mendesain dan menyalurkan produk dan jasa yan inovatif untuk platform/brand mereka. Produk dan Jasa ini mengumpulkan berbagai teknologi di seluruh sektor-sektor ekonomi.

Tujuannya? Untuk memberikan produk dan jasa yang dapat dengan mudah tersemat di kehidupan sehari-hari para user nya. Produk dan Jasa nya perlu cukup bobot hingga user mau untuk menggunakan platform tersebut untuk waktu yang lebih lama dan mempunyai peluang untuk melakukan lebih banyak di platform tersebut dibanding tempat lain.

Go-jek paham akan hal tersebut. Model bisnis nya adalah dengan menggunakan teknologi untuk menemukan user lebih banyak untuk platform mereka, dan secara konstan memberikan mereka alasan tambahan untuk tetap terhubung secara intense dengan platform tersebut.

Dengan cara ini, semua- tak hanya users – dapat “dikunci” kedalam ekosistem Go-Jek. Jasa pengiriman Go-Jek contohnya, tidak hanya menguntungkan bagi driver dan customer. Merchant dan Penyedia Jasa Lain memandang Go-Jek sebagai penyelamat di “Ekonomi Jakarta yang terhambat Macetnya Lalu Lintas”

Agar Ekosistem tersebut sulit untuk ditolak oleh customernya, Go-Jek menawarkan sebuah aplikasi sosial dan interaktif termasuk loyalty program bernama Go-Points. Alogritma nya memungkinkan customer mendapat kan reward yang tak terduga (hampir sama dengan Slot Machine), hadiahnya bervariasi dari mulai voucher Go-Jek, iPhones, iPads, dan Laptop.

“Kesempatan dan Tantangan di Go-Jek benar-benar menantang. Dengan sadar secara penuh akan cara kerjanya, kami segera tahu bahwa sumber daya dan teknologi kami akan berguna dan mempercepat product development di Go-Jek. Lebih lagi, fakta bahwa karya kami akan membantu jutaan pengguna aplikasi mobile Go-jek di Indonesia adalah hal yang membuat kami excited juga”

Itu merupakan statement dari founder dan CEO dari perusahaan pembuat dan developer app, Leftshift (Setelah perusahaan tersebut di akuisisi Go-Jek).

Statement ini menunjukan betapa pentingnya peran teknologi dalam menciptakan, merawat, dan mengembangkan Ekosistem Go-Jek. Maka tidak mengejutkan jika Go-Jek dengan aktif berinvestasi, berpartner, dan mengakuisisi perusahan-perusahaan startup.

    –          Untuk berhadapan dengan demand untuk terus berinovasi, Go-Jek pun membuat sebuah pusat R&D. Salah satu investor Go-Jek memperkenalkan Nadiem Makariem kepada founder startup-startup yang berbasis di India , C42 Engineering dan CodeIgnition, dan kabarnya mereka lah yang menyelamatkan Go-Jek dari status collapse.

     –          Mengakuisisi startup asing telah memfasilitasi inovasi produk dan user experience di dalam ekosistem. Peangakuisisian Startup kesehatan yang berpusat di Bangalore Pianta, contohnya, menambahakan sebuah pelayanan kesehatan di rumah dalam Ekosistem Go-Jek.

   –          Engineer Go-Jek terlibat dalam analisis dan data mining untuk memahami dan melindung Ekosistem. Belum lama ini, Para Engineer memulai kerjasama dengan perusahaan AI dan Machine Learning CloudSek, untuk membantu mencegah dan memonitor ancaman cyber terhadap Ekosistem.

     –          Perkembangan Teknologi tidak boleh terisolasi. Hal ini ditunjukan dalam gelaran Go-Hackaton pertama Go-Jek pada Maret 2017. Pemenang dari hackathon aktif dalam berbagai area connectivity, AI, dan Internet-of-Things.

Environment

Element ketiga merupakan mengadaptasi demand spesific dari environment lokal. Hal ini juga yang membedakan Go-Jek dari kompetitor utama mereka, Uber dan Grab.

Service fintech mereka, Go-Pay, merupakan contoh besar pentingnya pengadaptasian bisnis model terhadap keadaan lokal. Go-Jek sukses memperkenalkan sistem pembayaran elektornild dan mobil di Ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada pembayaran cash. Telah diintegrasikan sejak April 2016, dan sekarang melayani lebih dari separuh transaksi yang terjadi di Go-Jek.

Nadiem Makarim pun mengamini kesuksesan Go-Pay tersebut:

“Kita tak pernah melihat market adoption seperti Go-Pay”

Pengenalan servis ini berhasil karena Nadiem menyadari kebutuhan dan demand dari Environment lokal. Dia paham banyak usaha rumah tangga yang masih belum tersentuh bank di Indonesia.

Untuk mengaktifkan industri rumah tangga tersebut untuk berpartisipasi dalam sektor finansial dan mempromosikan keikutsertaan finansial, Go-Pay harus memperbolehkan user untuk memberi uang kepada driver Go-Jek. Uang tersebut keudian akan langsung di transfer ke akun mereka. Mengisi akun Go-Pay juga dapat dilakukan melalui bank atau ATM.

Jelas bahwa, Go-Pay menawarkan kesempatan luar biasa untuk semua yang terlibat dalam Ekosistem Go-Jek. Terutama saat Go-Pay dapa digunakan untuk membayar penyedia jasa dan merchant lain.

Nadiem Makarim percaya bahwa Go-Pay dapat “berubah menjadi bisnis yang menguntungkan”. Tentu saja, hal ini dapat terjadi bila Go-Jek dapat mengikuti inovasi dan teknologi.

Baca juga : Perjuangan Achmad Zaky dalam Meningkatkan Gengsi Pelaku UKM

Bagaimana membuat sebuah Ekosistem yang Makmur dan Sustainable?

Tak ada keraguan bahwa model “Ekosistem” sedang menggantikan teori ekonomi tradisional tentang Organisasi, Perusahaan dan Pasar.

Internet, algoritma, online rating, artificial intelligence, menyediakan akses mudah (dengan sedikit upaya) ke berbagai macam informasi. Hal ini menyediakan kesempatan yang hampir tak terbatas bagi semua perusahaan untuk membuat user tetap berada dalam ekosistem, untuk membuat partnership, dan terhubung ke dalam inovasi yang konstan dalam berbagai sektor ekonomi.

Go-Jek (dan perusahaan startup sukses lainnya) telah mengambil kesempatan di Era Digital untuk mengembangkan gaya baru dari organisasi dan bisnis model yang baru.

Perusahaan inovatif yang paling sukses paham bahwa kepercayaan, value, dan kekayaan diciptakan melalui pembuatan ekosistem yang dinamis, daripada manajemen pekerja dan produk  yang statis dan hirarkial.

Perusahan yang sudah mapan dan besar juga menyadari akan kesempatan ini, tapi mereka tetap bergantung pada struktur, proses, dan prosedur yang sudah ada. Tidak heran jika mereka kesulitan untuk beranjak ke Era Digital.

Hal ini pun mengantarkan kita kepada peran para Regulators dan pembuat peraturan. Mereka juga butuh untuk memikirkan ulang setiap aspek dari apa yang telah mereka lakukan. Dan fokus untuk memastikan lingkungan yang diregulasikan dapat bersinergi dengan pembangunan dan pemeliharaan ekosistem bisnis yang berkembang.

Tentu saja memang hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Setiap level pemerintahan mempunyai kesulitan untuk menghadapi realita yang cepat berubah dalam era digital. Perubahan teknologi yang rapid menyulitkan untuk mengudentifikasi dan menyetujui Perundang-undangan yang tepat. Hasilnya seringkali regulasi tersebut melarang, atau membatasi, eksploitasi komersil dari kesempatan yang diciptakan oleh inovasi teknologi yang konstan.

Go-Jek juga pernah mengalami hal ini pada Desember 2015, dimana Mentri Perhubungan Indonesia menyatakan bahwa “Jasa yang menggunakan kendaraan Pribadi” adalah hal yang illegal. Untungnya untuk Ekosistem Go-Jek, sang Presiden turut menengahi dan menghapuskan pernyataan tersebut.

Dan benar saja, hal ini merupakan keputusan yang tepat.

Ekosistem dapat mejadi rapuh- terutama pada tahap awal- dan peraturan ceroboh dapat membuat effect yang signifikan.

Yang dapat kita pelajari? Regulators seharusnya tidak ikut campur sebelum mereka mempunyai pengertian yang lebih baik tentang peran mereka dalam dunia baru di ekosistem bisnis ini.

Dan, apa peran tersebut? Well, mungkin hal tersebut dapat menjadi cerita di lain hari.

Sumber: Erik P. M. Vermeulen di Medium