Berusia 17 tahun ketika mulai merintis sebuah usaha, dan kini hampir memasuki 8 tahun usia usahanya yang dinamakan Rafheoo. Hendi Putra Dermawan bersama 4 sahabat SMA-nya bersama-sama membuat sebuah brand tas yang kita kenal sekarang dengan nama Rafheoo. Memulai sebuah usaha yang benar-benar berawal dari titik 0, hingga menjadi sebesar dan sepopuler sekarang, Rafheoo sudah memiliki store sendiri bahkan sudah memproduksi bahan bakunya sendiri. Lebih dari itu, Rafheoo sudah memasuki pasar luar negeri tepatnya di negara tetangga yakni, Singapura. Tim Digital Entrepreneur.ID berkesempatan bertemu dan melakukan interview session dengan salah satu Founder dari Rafheoo yaitu Hendi Putra Dermawan di Rafheoo Store (Jln. Cereme, RT.8/RW.3, Cilandak Barat, Cilandak, Jakarta Selatan, DKI Jakarta). Berikut hasil QnA tim Digital Entrepreneur.ID dengan Hendi Putra Dermawan yang mengulas lebih jauh tentang Rafheoo.

Short Story About Rafheoo?

“Cerita singkatnya sih waktu itu tahun 2011, lebih tepatnya bulan Maret. Cuma idenya itu keluar di 2010 akhir. Waktu itu saya baru kuliah 3 bulan, jadi saat itu saya masih berusia 17, terus saya ikut sebuah event, datang gitu namanya Wall of Ages pecinta denim dan brand lokal gitu. Saya dateng ke event tersebut dan banyak banget pengusaha-pengusaha muda yang bergerak di industri fashion kaya gini. Suatu saat tuh saya tertarik banget bikin  kaya gini, bikin sesuatu hal yang sama dan kebetulan saat itu saya suka banget sama travelling, suka backpacking ke beberapa daerah di Indonesia. Akhirnya saya memilih untuk memproduksi tas waktu itu dan akhirnya kenapa dinamain Rafheoo itu sebenernya singkatan dari nama-nama Foundernya.”

So, Rafheoo Didirikan Oleh Beberapa Orang?

“Iya, dulu 5 orang. Cuma seiring berjalannya waktu tinggal bertiga sekarang. Dari 5 nama itu, jadi lah nama Rafheoo. Singkatan nama saja, karena dulu bingung mau kasih nama apa. Jadi yasudahlah, dari singkatan nama saja dan jadilah nama Rafheoo.”

Baca Juga: Mandaka, Menghias jadi Bisnis

Apa Motivasi Lain Memilih Bisnis Ini? Di Luar Faktor Karena Suka Dengan Travelling Dan Backpacking.

“2011 kebetulan saya bikin brand ini hanya untuk ngejalanin passion. Saya belum berpikir kalau ini besar seperti sekarang dan bisa menghidupi saya. jadi nggak expect gitu lah, setelah 2 tahun berbisnis ngeliat omzet yang terus berkembang juga, saya mutusin dengan partner saya kayaknya ini harus kita seriusin. Akhirnya memang benar-benar tuh 2013 kita ekspansi. Ekspansinya ke produksi, karena menurut saya problem brand lokal itu di produksi. Karena pasti bermasalah dengan kualitas, dengan mininum order, dan timeline juga menjadi masalah. Akhirnya saya memutuskan untuk produksi sendiri. saya cari penjahitnya, saya hire kepala produksi penjahit mau bergabung dengan kita, dan berkembang sampai sekarang. Dan terus sampai di 2015, saya memilih untuk ekspansi lagi untuk memproduksi kain. Untuk kain canvas di sini ini sudah produksi sendiri in house.”

 

Tidak Expect Jika Rafheoo Akan Menjadi Besar Seperti Sekarang. Lalu Menurut Anda Apa Yang Bisa Membuat Rafheoo Besar Seperti Sekarang Ini?

“Menurut saya sih, setiap usaha pasti bisa mempunyai omzet yang besar. Asal memang si Founder atau Ownernya itu konsisten sama apa yang dia lakuin dan terus berinovasi. Jadi kebetulan saya berbeda dengan orang lain. 8 tahun berjalannya ini, banyak brand fokus gimana ngebranding si brand nya itu untuk terus dikenal banyak orang. Ini tuh bagus, tetapi perbedaanya saya sama orang lain itu saya selama beberapa tahun ini mencari sampai titik 0 bagaimana saya bisa memproduksi semurah mungkin sebuah produk tas. Jadi saya sampai buka jahitannya sendiri, saya buka pabrik kainnya, dan mungkin saya dari segi harga bisa motong cost sampai 3 kali lipat dari orang-orang lain.”

 

Penggunaan Sosial Media Sudah Sangat Amat Massive Pada Era Sekarang Ini. Kemudian, Pentingkah Instagram Untuk Rafheoo?

“Jujur, sekarang instagram itu merupakan ujung tombak dari kegiatan marketing Rafheoo. Menurut saya belum ada lagi sosial media lain yang mungkin sekuat instagram. Kalau dulu pertama kali saya bikin Rafheoo itu ujung tombaknya ada di Kaskus sama di Facebook. Cuma sekarang menurun, dan akhirnya pindah ke instagram karena simple dan mobile. Semua orang itu gunain instagram, jadi instagram bagi saya itu saat ini strong point untuk jualan buat Rafheoo.”

 

Tips Mengelola Feeds Di Instagram Rafheoo?

“Sebenarnya kalau untuk feeds sendiri itu tergantung taste dari si founder brand nya itu sendiri sih. Jadi ibaratnya kan instagram itu merupakan portofolio dari brand kita, gimana kita memperkenalkan kaya gimana, dan jualannya tuh foto wajib banget bagus. Menurut saya yang ngarahin itu harus punya sense of art nya, supaya itu keliatan menarik. Kalau tidak menarik, walaupun harganya murah parah juga nggak akan ada yang mau beli. Bahkan ada orang yang memang jago banget jualan, menurut saya produknya sangat biasa banget dan bisa jual itu gila harganya, dan itu banyak terjadi.”

 

Sesuatu Hal Yang Ingin Rafheoo Tunjukan Kepada Masyarakat?

“Rafheoo ini sebenarnya saya pengen jadikan tas yang benar-benar jadi teman sehari-hari. Jadi dia sebuah tas casual yang siapapun bisa pakai, dari segala umur dan dari segala segmentasi. Jadi saya tidak ingin membatasi, tas Rafheoo ini buat laki-laki, tas Rafheoo ini buat cewek, atau buat orang tua atau anak muda. Saya nggak membatasi itu, jadi saya sih tujuannya Rafheoo ini bisa dipakai semua orang.”

Sudah Berjalan Hampir 8 Tahun Lamanya, Apa Hambatan Yang Rafheo

Temui Selama Ini?

“Hambatannya itu ketika melakukan research. Karena memang kebetulan saya ini suka banget ngulik. Terutama material tasnya, itu saya suka banget ngulik sampai ke titik 0. Ketika saya lagi ngulik itu, dari segi finansial butuh untuk backup ya. Terkadang hasil dari keuntungan itu harus kita relakan untuk pengembangan daripada untuk kita makan sendiri. jadi Rafheoo itu udah bener-bener sampai ke titik hulu sampai paling akhir. Jadi kita udah ngerti sampai titik dari benang sampai produk jadi. Beda dengan brand lain yang mereka banyak yang hanya bisa desain, dia produksi ngerti, oke sudah jadi. Kalau saya bikin produk tidak sesimple itu, saya mau bikin produk A, saya pikirin kainnya harus pakai apa. Terus mungkin kalau orang lain yasudahlah kita cari di supplier-supplier, di toko-toko sebagaimacamnya, ini cocok nih. Saya tidak mau seperti itu, saya mau dari sampai benangnya entah katun, viscose, atau TC dan jenis-jenis benang lainnya. Terus jenis pewarnaannya, fat dying, natural dying, saya sampai se-complicated itulah.”

Baca Juga: Kanva: Produk dari Rumah untuk Rumah

Apakah Ada Rencana Untuk Memasarkan Rahfheoo Di Pasar Luar Negeri?

“Kebetulan balik lagi sama studi kelebihan dari instagram tuh menurut saya connecting people banget. Bila tau strateginya di instagram tuh bahkan seluruh dunia bisa melihat dengan semudah dia membuka handphone. Jadi kebetulan, Rafheoo ini untuk expand ke luar kita memang udah expand. Kita sudah punya consigment store di Singapura namanya Mega Fest dan kita juga ada beberapa reseller di Singapura. Tetapi poin utama saya untuk penjualan tetap di Indonesia, karena dari Indonesia sendiri pun saya merasa belum memanfaatkan potensi-potensi yang ada, potensi customer yang ada di Indonesia belum manfaatin banget. Menurut saya, kalau misalkan ada dari negara luar selain Singapura yang mau produk Rafheoo kenapa engga. Cuma tetap poin utamanya kita Indonesia dulu lah.”

 

Berbicara Tentang Pasar Lokal, Apa Planning Terdekat Yang Rafheoo Miliki Saat Ini Untuk Pasar Lokal?

“Kita ada launching produk baru sih. Kebetulan saya ada rekan public figure yang memang kita mau kolaborasi dengan dia, dan konsepnya saya pengen benar-benar ngasih lihat hal how to make Rafheoo, saya mau kasih lihat proses dari awal. Dari benang sampai jadi kain, sampai jadi tas dan dipakai sama public figure. Jadi kita ingin kolaborasi, kolaborasinya tuh benar-benar saya pengen konsepin banget lah. Akan ada di instagram, kalau youtube mungkin.”

 

Jika Kita Berposisi Sebagai Pebisnis Atau Pengusaha, Apakah Menguntungkan Berkolaborasi Dengan Orang Lain?

“Jelas, karena ketika kita berkolaborasi sama public figure yang jelas dia punya massa, fansnya dia lah yang jelas. Kita bisa “menjual” public figurenya untuk mendapatkan profit. Sebenarnya tujuannya ujung-ujungnya uang, ketika kita berkolaborasi pasti ada sesuatu yang ingin dituju.”

Pesan Dan Motivasi Untuk Para Entrepreneurs Di Luar Sana?

“Bagi teman-teman di luar sana yang ingin membangun sebuah brand sih saran dari saya itu keep survive aja. Karena brand itu tidak satu malam jadi dan harus ngerasain bagaimana susahnya membangun sebuah brand, susahnya itu sampai tidak bisa tidur, tidak bisa makan, ya harus cobain itu semua. Pokoknya jangan baru sekali produksi gagal sudah nyerah, terus saja. Karena saya juga di awal ya tidak langsung sukses seperti sekarang. Ada pengorbanan-pengorbanan yang saya lakukan untuk sejauh ini. Intinya tetap bertahan walaupun ada badai.”

IKUTI JUGA EVENT dengan para INSTAGRAM ENTREPRENEUR SUKSES, founder dari @guteninc dan @rafheoo yang akan berbagi ilmu mengenai bagaimana mengoptimalkan Instagram untuk sebuah bisnis.
Klik gambar dibawah ini untuk bergabung di Event spesial ini
ACE E-commerce Optimizing Instagram for Your Business