Meningkatnya popularitas Es Kepal Milo di Jakarta dan mungkin kota-kota besar lain, telah menggegerkan banyak pihak. Hal ini memberikan kesempatan bagi Nestle, induk perusahaan Milo, dan menggeser ide konvensional mengenai Pasar nya selama ini. Faktanya, kepopuleran Es Kepal Milo membuktikan bahwa base Customer terbesar Nestle saat ini adalah para pengusaha yang menyajikannya kepada anak-anak dan orang dewasa di kampung-kampung, perumahan, sekolah, kantin kantor, dan berbagai destinasi kuliner populer lainya.

Beberapa pengusaha juga sedang menjual hak franchise dengan menyediakan berbagai keperluan, peralatan, dan bahan untuk menyiapkan Es serut fenomenal tersebut dengan harga franchise bervariasi bagi mereka yang ingin terjun langsung ke bisnis ini. Karena yang terlebih dahulu terjun di trend ini kemungkinan yang akan mendapatkan untung paling banyak. Karena semakin kesini semakin banyak yang membuka stand tersebut, dan dengan hal tersebut kemungkinan profit dari tiap stand akan menurun. Apa anda sudah memperhatikan di jalan-jalan dekat rumah anda, mungkin bahkan ada yang sangat berdekatan satu sama lain seperti halnya minimarket-minimarket yang di tiap RT ada.

Asal Muasal Es Kepal Milo

Es Kepal Milo sendiri, sebenarnya berasal dari negara tetangga kita, Malaysia, yang dipopulerkan oleh pasangan dari Kuala Kangsar melalui Ais Kepal (Es Kepal) Milo Tok Abah di akhir 2017. Kepopulerannya sampai di Indonesia melalui sebuah YouTube post yang memantik spirit Entrepreneur dari pasangan muda asal Yogyakarta, Danang dan Rara. Berkat seorang food blogger, bisnis pasangan muda ini akhirnya menarik banyak customer pada akhir Maret tahun ini.

Bahkan Variasinya pun muncul di Bandung dalam bentuk Es Kepal Dancow, sebenarnya masih brand Nestle juga. Dan mungkin hanya perlu beberapa minggu untuk mengejar kepopuleran saudaranya.

Baca Juga: 3 Pelajaran Digital Minggu Ini : Distraction, Testimoni, Lupa Tujuan

Sebuah pertunjukan Customer-Generated Marketing

Sensasi baru yang diciptakan oleh para entrepreneur ini sebenarnya adalah demonstrasi dari aksi customer-generated Marketing. Pertama, bagaimana sebuah product digunakan secara berbeda, dan kedua, bagaimana informasi tentang produk baru ini disebarkan. Produk dengan cita rasa susu didesain oleh produsen untuk membuat pengalaman meminum susu lebih enak dan menyenangkan. Popularitas Es Kepal Milo merupakan contoh bagaimana Customer menunjukan pada Produsen bahwa mereka menggunakan produk secara berbeda dan bahkan menemukan jalan untuk mendapatkan keuntungan dari penemuan baru tersebut.

Tapi kesuksesan dari fenomena Customer-generated marketing ini lebih karena bagaimana informasi disebarkan, seperti melalui para Food Bloggers, situs berbagi Video, sosial media dan digital platform serupa. Dan dimotori oleh penggunaan Smartphone di Indonesia yang sudah bisa dijangkau oleh berbagai kalangan.

Namun sebenarnya fenomena ini bukanlah contoh customer-generated marketing pertama yang menampilkan Milo dan Dancow. Jika anda mencari resep Dancow melalui platform seperti cookpad, ada 9,958 resep untuk brand yang satu ini, dan 2,763 resep untuk Milo. Brand lain termasuk Oreo, dengan 6,361 resep dan Beng Beng dengan 146. Brand populer lain yang masuk ada Ovaltine 91 resep dan Ovomaltine dengan 178 resep. Tapi yang paling atas (baik secara rangking dan penggunaan) adalah Meses Ceres dengan 16,055.

Contoh Customer-Generated Marketing yang lain.

Jauh sebelum Es Kepal Milo ‘meresahkan’ lidah para penikmat kuliner, Indonesia sebenarnya sudah mempunyai kuliner yang sukses dengan Customer-generated marketing hingga sekarang, yang gerai-gerainya masih mudah sekali untuk kita temui dimana-mana, yaitu Martabak. Ada dua versi major martabak yang kita ketahui yaitu Martabak Telur, sebuah omellete pancake dengan irisan-irisan daging di dalamnya, dan Martabak manis yang ditempat asal saya lebih sering disebut dengan terang bulan.

Gerai-gerai makanan populer tentunya membuat inovasi dari terang bulan ini, seperti menyertakan berbagai buah contohnya Nanas atau Pisang. Namun yang membuat Martabak Manis menjadi populer dan mewah adalah adanya varian yang menyertakan Nutella dan Toblerone sebagai andalannya. Dan hal ini pun memungkinkan produsen Toblerone (Coklat berbentuk segitiga) dan Nutella (Selai Coklat Hazelnut) mendapatkan kesempatan untuk melakukan penetrasi ke market baru yang selama ini belum pernah mereka jangkau. Bahkan martabak manis juga menghidupkan kembali Ovaltine dan Ovomaltine menjadi lebih familiar.

Baca Juga: 3 Pelajaran Digital Minggu Ini : Orang Tua, Mesinisasi, Kolaborasi

Hal yang luar biasa dari kepopuleran Es Serut dan martabak manis ini adalah keterlibatan Customers. Inovator dari kegunaan baru produk tersebut adalah sang customer, dan akhirnya bermuara ke pembentukan pasar baru.

Untuk mempertahankan Kepopuleran dari produk dan brand, produsen seharusnya memastikan bahwa selalu ada supply yang konstan untuk menghindari melonjaknya harga. Satu alasan kenapa Es Kepal Milo menjadi hits secara cepat adalah karena harganya yang terjangkau untuk semua kalangan, dengan harga mulai dari Rp. 10.000 di dekat tempat saya.

Namun sedikit peringatan untuk produk kaya akan gula ini, seharusnya produk seperti ini dikonsumsi tidak secara berlebihan. Saya harap ada versi yang lebih sehat dari produk ini di pasar secepatnya. Dan hal ini mungkin akan menjadi tantangan bagi mereka yang mendukung niche pasar yang sadar akan kesehatan di Indonesia.

Bulan puasa juga sudah didepan mata. Sangat menarik untuk melihat ide-ide baru apa yang akan muncul dari para Customer-yang-menjadi-Entrepreneur di bulan suci Ramadhan kali ini. Apakah anda salah satu di antara mereka?

 

Source: The Jakarta Post