Untuk menjadi entrepreneur sukses, dalam hal apapun, di dunia ini sebenarnya hanya ada 2 cara, yaitu : hebat dalam membangun hubungan dan hebat dalam mengelolah apa yang ada saat ini.

Modal pandai, kaya, terkenal, keturunan bangsawan, ganteng, cantik tidak akan menjamin kesuksesan seseorang. Kalaupun sempat sukses (mungkin karena beruntung), biasanya tidak bertahan lama tanpa kedua hal tersebut. Coba baca biografi orang-orang yang sukses dalam hidup mereka, mereka adalah orang-orang yang hebat dalam kedua hal tersebut.

Untuk kali ini saya hanya akan membahas mengenai “hebat dalam membangun hubungan” saja. Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk sosial, karena itu hubungan menjadi sangat penting.

Untuk meraih kesuksesan sebagai digital entrepreneur, Anda perlu membangun hubungan dengan keempat orang ini :

1. Dengan Tim / Karyawan Anda

Membangun hubungan dengan tim Anda
Credit : industryweek

“Everyone talks about building a relationship with your customer.
I think you build one with your employees first.”
– Angela Ahrendts, VP at Apple.

Seringkali perusahaan hanya fokus pada target penjualan, tanpa pernah mempertimbangkan siapa saja orang-orang di dalam perusahaan tersebut yang akan membawa perusahaan tersebut untuk mencapai tujuan itu.

Baca juga : Membangun Jaringan Reseller dari Konsumen Aktif

Saya percaya semua perusahaan berharap perusahaannya akan tetap berdiri untuk jangka waktu yang sangat lama, bahkan kalau bisa hingga kiamat tiba. Ada pepatah yang berkata:

“If you want to go fast, go alone.
If you want to go far, go together”
– African Proverb
.

Untuk dapat “berjalan jauh”, kita perlu saling kenal supaya kita dapat saling percaya dan pada akhirnya dapat bekerja sama dengan baik. Pastikan Anda mengenal satu-persatu anggota tim Anda. Kenali apa kelebihan dan kelemahan mereka.

Karena itu lakukanlah :

  • Pastikan Anda punya group khusus, minimal group di Whatsapp dengan anggota tim Anda. Bangun komunikasi disana.
  • Tentukan minimal 1 hari dalam 1 bulan untuk hanghout.
  • Buat pelatihan khusus untuk anggota tim Anda yang akan memperkuat skill mereka.
  • Apresiasi keberhasilan mereka, sekecil apapun itu.
  • Hindari gosip.

2. Dengan Client / Customer Anda

Membangun hubungan dengan customer
Credit : simplybusiness

Tidak jarang ada yang bertanya, “produk saya ini bagus, tapi mengapa tidak ada yang beli ya ?”. Ada banyak jawaban untuk menjawab pertanyaan ini. Bisa saja karena branding dia kurang kuat. Bisa juga karena marketing dia kurang maksimal. Atau bisa juga karena harganya terlalu mahal dan sebagainya.

Tapi kali ini saya akan bahas 2 jawaban yang lainnya : Karena mereka belum percaya dengan Anda atau karena Anda belum tentu menjawab kebutuhan mereka. Seringkali kita berpikir bahwa produk ini, dengan segala fiturnya, adalah cocok untuk customer Anda, padahal itu belum tentu kebutuhan mereka.

Solusi untuk kedua hal tersebut adalah membangun hubungan dengan customer.

Dengan membangun hubungan dengan customer, kita dapat makin dipercaya. Dengan membangun hubungan dengn customer, kita dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Sebagai contoh, partner kami, Alpha Next Digital Solution, saat membuatkan website client mereka, Alpha Next selalu melakukan analisa terlebih dahulu target audience. Misal client ingin agar di website mereka ada fitur untuk pembayaran credit card. Pertanyaannya, apakah pembeli akan pakai fitur itu tidak ? Jangan-jangan mereka tidak butuh fitur ini ? Untuk pembelian produk yang tidak sampai 1 juta, apakah mereka akan menggunakan credit card mereka ? kalaupun untuk produk diatas 1 juta, apakah mereka langsung bersedia pakai credit card mereka ? ini harus dianalisa dulu.

Begitu juga ketika akan membuat mobile app, apakah user bersedia install aplikasi kita di gadget mereka ? Saya kuatir user install sekali kemudian uninstall aplikasi kita untuk menghemat memory gadget mereka. Kita perlu memahami user kita.

Saya belajar dari Alpha Next, saat membuat website, agar kita bisa membangun hubungan dengan customer kita, pastikan di website kita terdapat :

  • Contact person yang sangat jelas, misal nomor Whatsapp, dan pastikan dapat di-klik.
  • Ada link ke social media kita.
  • Ada fitur live chat.
  • Ada email marketing tool, sehingga kita dapat mengirim newsletter sekaligus dapat mencatat kebiasaan atau kesukaan dari customer kita. Misal, kita bisa tahu siapa saja customer yang suka dengan newsletter tentang kategori produk A? Siapa yang suka dengan kategori produk B ? Sehingga kedepan kita bisa menawarkan produk sesuai kesukaan mereka.
  • Ada Facebook Pixel yang ditanamkan di website kita, agar kita dapat melakukan retargeting mereka.
  • Ada survey tool, untuk mengumpulkan informasi atau meminta feedback customer kita.
  • Dan sebagainya.

Baca juga : Langkah Mudah Mengubah Ide Menjadi Bisnis Digital Sukses

3. Dengan Supplier Anda

Membangun hubungan dengan supplier
Credit : ecratum

Supplier atau pemosok, pasti akan berpengaruh dalam bisnis Anda. Kita perlu menemukan pemasok yang tepat terlebih dahulu, yaitu pemasok yang baik dan terpercaya. Setelah Anda menemukannya, perlakukan mereka seperti emas.

Dalam dunia digital, supplier disini bisa berarti :

  • Programmer yang akan membuatkan website Anda.
  • Digital Agency yang akan menjalankan digital marketing Anda.
  • Vendor untuk plugin-plugin seperti payment gateway, logistik, dan sebagainya.
  • Vendor untuk marketing tool, seperti email marketing, Facebook Pixel, Landing Page builder, Instagram marketing tool, dan sebagainya.
  • Author luar yang menjalankan content marketing Anda.
  • Dan sebagainya.

Bagaimana membangun hubungan yang baik dengan mereka :

  • Komunikasikan segala sesuatu yang Anda butuhkan di awal, untuk mencegah salah pengertian saat proses pengerjaan
  • Berperilakulah sebagai konsumen yang baik dengan membayar tepat waktu dan memberi kesempatan waktu jika mereka belum bisa menyelesaikan, kecuali memang ada alasan khusus, seperti adanya persaingan dengan kompetitor, tentunya dengan komunikasi yang baik.
  • Sesekali berkunjunglah ke kantor supplier Anda entah untuk melibatkan mereka dalam rapat perusahaan ataupun untuk mengajak mereka piknik bersama.
  • Berbagilah informasi kepada mereka jika ada perubahan di perusahaan Anda, seperti perubahan personel kunci atau kebijakan lainnya.

4. Dengan Kompetitor Anda

Membangun hubungan dengan kompetitor
Credit : weclipart

Saya belajar ini dari Rico Satria, pemilik plazakamera.com, ketika beliau menjadi pembicara meetup e-commerce Asia Commerce beberapa waktu lalu. Beliau menceritakan bahwa sekalipun plazakamera menjadi salah satu e-commerce dengan traffic tertinggi di Indonesia dengan omzet milliaran rupiah per-bulan, beliau tetap konsisten membangun hubungan dengan para kompetitor.

Beliau kerap kali datang ke toko-toko kompetitor dengan membawa makanan 🙂 Bahkan terkadang jika di tokonya tidak ada produk yang dicari oleh pembeli, beliau tidak segan-segan memberi informasi ke pembeli untuk datang ke kompetitornya.

“Jangan jadikan kompetitor kita sebagai musuh, jadikan mereka teman. Dengan tidak adanya musuh, anda tidak akan terkalahkan”
– Jack Ma

Saya akan mengakhiri artikel ini dengan sebuah kisah seorang petani jagung.

Suatu kali petani jagung A mempunyai ide untuk mengalahkan petani-petani jagung lainnya di sekitar ladang jagungnya. Pada malam hari, ketika semua petani tertidur lelap, petani A dengan diam-diam menaburkan benih yang buruk ke ladang lawan-lawannya.

Sebaliknya, di ladang yang lain, petani B kerap kali membagikan benih jagung yang baik ke petani-petani di sekitar ladangnya.

Musim panen pun tiba. Ditemukan bahwa jagung milik petani B jauh lebih berkualitas daripada jagung petani A. Bagaimana bisa ? Benih yang buruk dari petani A ternyata di bawah angin sehingga kembali ke ladang petani A, sehingga terjadi perkawinan silang dengan benih milik petani A yang tentunya benih yang baik. Sebaliknya petani B menuai jagung yang berkualitas, karena benih yang baik yang ditabur di ladang “kompetitor” terjadi perkawinan silang dengan benih baik milik petani B.

“Kita akan menerima apa yang kita berikan”