Perkembangan zaman tak pelak lagi membutuhkan daya upaya dengan semaksimal mungkin. Terkadang mereka yang tidak siap menghadapi kemajuan zaman akan terlibas dengan sendirinya. Dibutuhkan keluwesan juga kelenturan menghadapinya. Salah satu yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keinginan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang cepat, mudah, dan juga murah membuat menjamurnya berbagai hal yang menggunakan layanan online sebagai jasa yang ditawarkan. Adanya toko-toko online yang berada dalam sebuah tempat dengan konsep mall online, dimana pembeli cukup berada di rumah dan cukup berselancar dengan menggunakan gadget. Para calon pembeli cukup memilih barang yang dibutuhkan dan melakukan transaksi jual beli seperti umumnya transaksi konvensional. Perbedaan hanya pada cara berbelanja serta cara melakukan pembayaran. Kemudahan yang ditawarkan menimbulkan persaingan usaha di antara para pemilik toko online yang diharapkan dapat menjadi kompetisi yang sehat.

Tidak hanya terjadi dalam hal jual beli online saja, kemajuan zaman juga ditandai dengan adanya jasa menawarkan transportasi online. Jika dulu dapat ditemui angkot ataupun ojek yang mangkal di pangkalan, kini pemandangan itu sedikit berkurang. Transportasi online menawarkan kemudahan bagi penggunannya karena tidak perlu keluar rumah. Cukup berbekal smartphone yang telah di-instal aplikasi transportasi online, pengguna hanya perlu menuliskan alamat penjemputan serta alamat tempat yang menjadi tujuan. Aplikasi akan mencarikan driver untuk Anda. Simpel. Transportasi online ini tidak hanya terbatas pada mengantar pengguna saja, melainkan hampir semua kebutuhan masyarakat diakomodir dalam satu aplikasi. Mengagumkan, bukan?

Baca juga : Apa Persamaan 44 Startup Calon Unicorn Asal Indonesia Ini?

Alamanda Shantika Santoso atau biasa disapa Mbak Ala ini, adalah salah satu perempuan yang berada di balik mode transportasi online ini. Perempuan kelahiran 1988 ini adalah Vice President of Technology Produk Go-Jek.

kreatifitas alamanda
Credit : Detik

Siapa yang tidak tahu Go-Jek? Sebuah layanan online dengan aplikasi yang awalnya hanya berupa kantor kecil, kini bertumbuh menjadi perusahaan dengan skala yang besar serta juga memiliki ribuan mitra. Perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim ini menjawab tantangan yang ada dengan mendirikan sebuah layanan yang sering digunakan oleh khalayak ramai. Alamanda Shantika Santoso memiliki tanggung jawab langsung yang berhubungan langsung dengan produk teknologi yang ditawarkan oleh layanan berbasis online, yakni Go-Jek.

Pada awalnya ketikan ia ‘dipinang’ oleh Nadiem Makarim untuk bekerja pada perusahaan yang didirikan Nadiem tersebut, Ala mendapatkan penolakan dari ibunya. Saat itu perusahaan dengan layanan berbasis online ini hanya sebuah perusahaan kecil yang baru mulai tumbuh. Apalagi saat itu Ala sudah bekerja di sebuah perusahaan yang terbilang cukup besar. Namun Nadiem meyakinkannya bahwa jika ia bekerja di perusahaan dengan basis layanan online ini, maka ia akan memberi makan banyak orang. Saat itu Nadiem meminta agar Ala membuat aplikasi online yang diberi nama Go-Jek.

Baca juga : Dewa Eka Prayoga: Mengolah Musibah Menjadi Berkah

Alamanda Shantika Santoso ini mendapatkan tiga ijazah dari universitas tempat ia mencari ilmu, yakni jurusan Matematika, IT,  dan Desain dari Universitas Bina Nusantara, membuat ia harus pandai membagi waktu agar tidak ada yang diabaikan. Pada bulan Mei 2015 Alamanda Shantika Santoso pun bergabung dengan layanan berbasih online dengan nama Go-Jek. Butuh waktu hampir 4 bulan untuk Ala menggarap aplikasi itu lantaran kekurangan sumber daya yang dibutuhkan saat itu. Awalnya ia hanya memiliki 5 orang anggota tim dengan status freelance. Saat Go-Jek mulai mendapat tempat di masyarakat, kemudian ia menjadi leader bagi 130 engineer.

Pada tahun 2009 ia membuat platform e-commerce miliknya sendiri. Bahkan terhitung sudah 200 e-commerce yang ia buat sampat tahun 2013. Kemudian ia bergabung ke perusahaan Nostra yanh dimiliki oleh Rama Notowidigdo, yang menjadi Chief Product Offïcer (CPO) Go-Jek. Tidak lama setelah di Nostra ia kemudiah pindah dan bekerja di Berrybenka. Selepas itu tak sampai satu tahun kemudian ia resign dan bekeja di KartuKu sebelum akhirnya ia memantapkan diri bekerja di perusahaan berbasis layanan online, Go-Jek.

kreatifitas alamanda
Binar Academy Jogjakarta

Keluar dari Go-Jek, seakan tidak bisa menghentikan kreatifitas Ala. Tahun ini Ala membuka Binar Academy, sebuah sekolah khusus untuk para programmer yang baru saja diresmikan pada bulan maret lalu di Jogjakarta. Dengan berdirinya Binar Academy ini diharapkan akan melahirkan programmer-programmer berkualitas di Indonesia. Tidak hanya sekedar sebagai tempat edukasi, Binar Academy juga dibuat sedemikian agar bisa menjadi tempat co-working space bagi para penggiat start-up di Jogja dan sekitarnya. untuk bisa saling bekerja sama dan berbagi ilmu.