Seperti pepatah mengatakan “tak ada yang abadi”. Masih ingat Friendster? Bisa dibilang, Friendster adalah pelopor media sosial dan tenar di tahun 2000-an. Tapi akhirnya tenggelam begitu saja. Apakah nasib yang sama akan menimpa Facebook?

Seperti diketahui, krisis besar tengah menimpa perusahaan ciptaan Mark Zuckerberg itu terkait data sekitar 50 juta user yang dikatakan bocor dan dimanfaatkan Cambridge Analytica, konsultan politik Donald Trump, untuk kepentingan kampanye pilpres Amerika Serikat. Harga sahamnya pun anjlok drastis sekitar USD 35 miliar, begitupun kekayaan Zuck sudah terpangkas ratusan triliun.

Sebelum skandal itu terkuak, Facebook sebenarnya sedang mengalami berbagai tantangan. Semakin sedikit pengguna yang menghabiskan waktunya di facebook. Dalam laporan untuk kuartal IV 2017, Zuck sendiri yang mengatakan kalau jumlah waktu user mengakses Facebook turun 50 jam per hari.

Meskipun pengguna aktif harian meningkat 14% menjadi 1,4 miliar dibanding tahun sebelumnya, ada fakta kurang mengenakkan di beberapa negara. Di kandangnya Amerika Serikat serta Kanada, jumlah pengguna Facebook anjlok 1 juta di kuartal itu.

Baca juga : Muncul Aplikasi Sosmed Baru, Akankah Menggeser Facebook dan Instagram???

krisis facebook
Pendiri Facebook Mark Zuckerberg.

Adapun di Eropa, pertumbuhan jumlah user Facebook melambat secara signifikan. Padahal wilayah itu menghasilkan sampai 75% pendapatan Facebook.

Riset baru dari eMarketer mengestimasi, pangsa pasar Facebook di periklanan digital Amerika Serikat akan menurun dalam dua tahun ke depan terkait perlambatan pertumbuhan user serta harga iklan sudah tak bisa ditinggikan.

Dan sekarang ada skandal baru terkait kebocoran data 50 juta user yang masih panas, di mana otoritas ingin meminta pertanggungjawaban Facebook serta tentunya Zuckerberg. Jika tak ditangani dengan baik, bisa saja popularitas Facebook makin merosot.

Sang pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg tak langsung merespons skandal tersebut. Ia memilih diam. Setelah didesak banyak pihak, Zuckerberg akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di akun Facebook resminya, Zuckerberg meminta maaf pada pengguna dan menjanjikan sistem yang lebih aman untuk melindungi privasi data.

Baca juga : Setelah Facebook dan Instagram Kini Saatnya Google Razia Iklan Berbau Bitcoin

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di akun Facebook resminya, Zuckerberg meminta maaf pada pengguna dan menjanjikan sistem yang lebih aman untuk melindungi privasi data. “Kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi data anda, dan jika kami tidak bisa, maka kami tidak pantas untuk melayani anda. Saya telah mencoba memahami dengan tepat apa yang terjadi dan memastikan bagaimana kejadian ini tidak akan terulang lagi,” tulis Mark Zuckerberg

Selain itu dalam pernyataannya, Zuckerberg menyatakan telah mengambil langkah antisipatif agar kasus ini tidak kembali terjadi di kemudian hari. Langkah tersebut salah satunya adalah dengan memberi perhatian lebih serta membatasi akses aplikasi pihak ketiga pada profil pengguna seperti foto maupun alamat e-mail. “Kabar baiknya, kami telah mengambil tindakan penting untuk mencegah hal ini terulang dan itu sudah kami lakukan beberapa tahun lalu. Namun kami membuat kesalahan, dan masih banyak yang harus dilakukan,” lanjutnya. Senada dengan Mark Zuckerberg, Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg juga mengakui adanya kesalahan dari perusahaan dalam melindungi data pengguna.

“Seperti yang dikatakan Mark Zuckerberg, kita tahu bahwa ini adalah pelanggaran besar terhadap kepercayaan masyarakat dan saya sangat menyesal apa yang kami lakukan tidak cukup mampu untuk mengatasinya,” tulisnya. Karena kasus ini, Facebook kini tengah   menjadi sorotan publik dan badan hukum. Bahkan Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat telah memberi permintaan khusus pada Facebook untuk memberi penjelasan terkait kebocoran serta kemuungkinan penggunaan data oleh Cambridge Analytica.

krisis facebook
Krisis besar tengah menimpa facebook terkait data sekitar 50 juta user yang dikatakan bocor dan dimanfaatkan Cambridge Analytica, konsultan politik Donald Trump, untuk kepentingan kampanye pilpres Amerika Serikat.

Facebook kini tengah menghadapi tekanan serta pertanyaan besar dari berbagai pihak. Bahkan beberapa waktu lalu muncul kabar bahwa parlemen Inggris akan memeriksa Mark Zuckerberg terkait skandal ini. Bukan hanya itu, pendiri Facebook ini pun tengah dilanda kerugian material dalam jumlah yang besar. Setidaknya harta Zuckerberg turun 4,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67,5 triliun dalam sehari.

Sementara tekanan ini berlanjut, investor saham khawatir, Facebook akan dijatuhi regulasi lebih berat. Sahamnya pada Senin kemarin terperosok sampai 6,8 persen, dan memangkas kekayaan Zuckerberg menjadi 70,4 miliar dolar AS.

Baca juga : Lebih Pilih Instagram dan Snapchat, Generasi Milenial Mulai Tinggalkan Facebook???

Ya setelah era Friendster, MySpace sempat cukup lama berjaya sebelum dihancurkan Facebook. Dengan miliaran pengguna dan masih menghasilkan keuntungan raksasa, Facebook tampaknya masih akan lama bertahan. Namun tentu saja, mereka harus waspada.

“Seperti MySpace sebelumnya, dominasi jangka panjang Facebook tidaklah terjamin. Serangan gencar soal privasi mungkin akan mempercepat kemundurannya,” tulis Reuters.

Lalu bagaimana nasib facebook kedepannya? Akankah Facebook bernasib sama seperti Friendster? Mari kita nantikan saja!!

 

(Sumber : DetikInet & Kompas.com)