Bitcoin sebagai salah satu mata uang kripto atau yang lebih dikenal sebagai cryptocurrency semakin menjadi primadona dalam dunia investasi. Nilainya yang fluktuatif dan cenderung semakin tinggi membuka peluang Bitcoin menjadi salah satu komponen investasi.

Pada akhir 2015 yang lalu harga 1 keping Bitcoin sekitar Rp 8-9 jutaan. Namun hingga September 2017 harga sekeping Bitcoin mencapai US$ 4.909 atau jika dikurskan dengan rupiah 13.200 per US Dolar  setara dengan Rp 64,7 jutaan. Adapun, harga bitcoin tercatat turun drastis dari pertengahan Desember 2017 yang melebihi US$19.000 ke level di bawah US$7.000.

Baca juga : Penyebab Nilai Tukar Bitcoin Turun Drastis

Bitcoin memiliki pasar yang bernama Bitcoin Spot Market, di Indonesia bisa dilakukan di web bitcoin.co.id. Pada trading web tersebut terdapat papan perdagangan seperti di bursa saham. Kurva pergerakan harga Bitcoin pada Bitcoin Spot Market juga berbentuk candle stick seperti pada Forex. Cara perdagangannya sama dengan Forex serta saham. Trader Bitcoin melakukan jual beli dengan memasang harga jual yang diinginkan. Strategi untuk mencari keuntungannya pun sama yaitu membeli dengan harga terendah dan menjualnya kembali ketika harganya tengah melambung. Contohnya ketika harga beli bitcoin masih di angka 10 jutaan, maka dilakukan pembelian. Setelah beberapa waktu dilakukan trading, portofolio bisa berubah sesuai dengan pasar. Jika bisa mendapatkan keuntungan 0,2 keping saja, maka bisa mencapai Rp 12 juta per bulan.

legalisasi bitcoin
Walaupun mesih belum diakui, cukup banyak masyarakat Indonesia yang berminat investasi Bitcoin

Meskipun sangat menggiurkan, Bitcoin memang belum diakui di Indonesia. Tapi hal ini tidak berpengaruh pada minat orang Indonesia untuk berinvestasi dengan Bitcoin. Hingga kini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum memberikan kejelasan legalitas bitcoin sebagai salah satu produk investasi. Ada tiga alasan yang menyebabkan Bitcoin tidak kunjung mendapat legalitas, antara lain:

  1. OJK belum mengetahui secara jelas nilai fundamental atau fungsi dari bitcoin, karena bitcoin hanya berupa rangkaian angka. Hal ini tentu berbeda dengan logam mulia seperti emas. Jumlah emas dan logam berharga lainnya terbatas, sehingga memengaruhi harga dan memiliki nilai investasi yang jelas.
  2. Alasan kedua mengapa Bitcoin belum mendapat legalitas adalah sulitnya mencocokkan ciri mata uang pada Bitcoin. Dengan kata lain Bitcoin belum bisa diakui sebagai mata uang. Apalagi ditegaskan dalam Undang-Undang (UU) Mata Uang bahwa alat pembayaran yang sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mata uang Rupiah.
  3. Otoritas Jasa Keuangan telah mencoba mencocokkan Bitcoin sebagai produk investasi tapi tidak ada jaminan (underlying) pada Bitcoin seperti produk investasi lainnya. Bahkan hal ini sudah dikonfirmasikan pada beberapa pihak termasuk pakar atau pelaku langsung.

Sehingga dengan pertimbangan tersebut, OJK mengalami kesulitan dalam membuat regulasi serta memberikan legalisasi Bitcoin. Namun pengkajian terhadap kriteria pembentukan harga Bitcoin yang adil tetap dilakukan hingga nanti diketahui peta jalan dari jenis investasi ini. Sementara itu Bank Indonesia berlandaskan kehati-hatian sehingga melarang bitcoin digunakan sebagai transaksi pembayaran dan berlaku juga untuk mata uang digital (cryptocurrency) lainnya. “Bukan berarti dia haram. Tapi dia bukan legal tender yang sah,” kata Yosamarta, Asisten Direktur Bank Indonesia (BI) Fintech Office.

Baca juga : Keunggulan Blockchain dalam Transformasi Masa Depan

Sementara itu, Oscar Darmawan CEO Bitcoin Indonesia menyatakan bahwa semestinya pemerintah bisa mengatur Bitcoin dari sisi bursa berjangkanya yang juga telah dilakukan oleh Pemerintah Jepang dan Uni Eropa. “Dengan mengatur bursa itu maka penerapan Money Laundering (ML) dan Know Your Consumer (KYC) akan beres. Kalau ada money game dengan bitcoin dan sebagainya kalau sudah diatur, jika ada yang ilegal semua arus transaksi bisa dilacak. Kan keunggulan bitcoin itu. Kalau sudah diatur tidak ada ekonomi hitam yang mengarah kesana,” kata Oscar.

Pengesahan bitcoin sebagai komoditas berjangka menunggu studi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappeti). Bitcoin dipastikan dilarang menjadi mata uang akan tetapi untuk sebagai komoditi berjangka masih ada kesempatan. Tinggal menunggu bagaimana dengan keputusan kemendag atau bappeti. Kajian demi kajian mengenai bitcoin sebagai komoditi berjangka masih terus berlangsung dan akan diperkirakan selesai sampai bulan Juni 2018.