Saya yakin anda memiliki Instagram, atau paling tidak akun Facebook. Dan mungkin anda pernah merasakan yang saya rasakan, hanya 10 menit Scrolling-scrolling di Instagram, lusinan brand yang sebelumnya belum pernah saya dengar muncul di depan layar saya. Sangat banyak sekali brand B2C yang belum pernah kita dengar di Era sosial media ini, dan saya akui, saya juga sedikit banyak menyumbang kelangsungan hidup beberapa brand tersebut, karena tidak jarang saya akhirnya tertarik membeli produk yang mereka tawarkan.

Micro Brand
Tampilan brand-brand yang muncul di Instagram saya

Di Dekade terakhir ini kita sebagian besar pengusaha berinvestasi dan mengarahkan perusahaan melalui kuatnya jaringan yang kita miliki, Kekuatan marketplace-marketplace besar, dan mengukur potensi dari brand melalui skala dan jalur nya dalam dominasi kategori. Kita mengira bahwa brand-brand lama yang sudah kuat akan diserang dengan brand baru nan modern yang langsung mengambil alih pasar secara massive. Tapi kenyataannya adalah, brand besar dan kuno saat ini sedang bertarung dengan Ribuan brand-brand kecil dengan low overhead (cost kecil), lebih menekankan pada design merchandise, dan taktik mengakuisisi customer yang sangat efisien. Banyak dari para pengusaha yang gagal menyadari dampak kolektif dari ekor panjang Micro Brand.

Sekali lagi, dan mereka cukup membuat saya gatal untuk melakukan Checkout di tanggal muda

Kumpulan micro brand dengan marketing efisien nan massive ini, secara agregat, mempunyai impact yang jauh lebih besar dari yang orang kira. Menggunakan Hyper-targeted marketing, produksi saat-itu-juga, dan sosial media, brand-brand ini dapat menemukan dan terhubung dengan audience dimanapun mereka berada. Tentu saja, brand kecil bukanlah hal yang baru, tapi biasanya mereka tetap menjadi perusahaan yang kecil. Saat ini banyak kita dengan tentang brand-brand dengan tim kecil, yang menghasilkan omzet puluhan bahkan ratusan juta, dengan profit margin lebih tinggi dari normal retail. Apa yang menggerakan gelombang commerce baru ini, dan apa yang mendasarinya?

Mendesain dan Melaunching Brand baru tanpa Inventory Risk

Banyak dari brand-brand ini yang tak berbekal inventory(inventaris) sama sekali, di desain dengan supply chain yang teratur dan ketat yang dapat membuat dan mengirim produk on demand melalui batch-batch kecil, dan seringkali dikoordinasikan melalui partner di Tiongkok. Mungkin sering kita dengar beberapa brand yang melaunching dan menjual merchandise dengan maksud sebagai design test, dan menginfokan ke customer bahwa shipping atau pengirimannya akan memakan waktu beberapa bulan. Dengan cara seperti itu, perusahaan baru yang membuat kaos kaki atau handuk dapat dengan mudah untuk melaunching tiga brand sekaligus dan kemudian baru mendevelop brand yang terjual paling bagus. Brand-brand seperti ini dapat ditukar-tukar dan diganti dengan sangat cepat, dan mereka hanya dimanage berdasarkan cost of customer acquisition (biaya untuk mendapatkan customer) dan penyebarannya di Instagram

Baca Juga: Semua Hal yang HARUS Anda Ketahui Tentang Bisnis Di Instagram

Hyper-Targeted Advertising yang modern dan mudah dijangkau

Meskipun anda atau saya bukan yang benar-benar expert dalam permainan Customer Acquisition (CPA) di Instagram, tapi saat ini mulai muncul banyak resource yang membahas hal ini, dan DEID juga menjadi salah satunya. Maka tidak mengejutkan jika sejauh yang saya tahu, brand-brand ini dapat menarget melalui usia, geografi, dan interest diantara kriteria-kriteria lain yang lebih detail. Dan brand-brand tersebut juga saling diuntungkan dengan preferensi yang dihasilkan oleh para customer. Sebagai contoh, jika saya berinteraksi atau mengikuti micro brand tertentu di Instagram, maka brand lain akan menarget saya lebih baik lagi. Dari hal tersebut membuat saya berpikir akan jadi seperti apa nanti targeted brand ini? Saat brand-brand mendapatkan akses ke data mutakhir seperti ini, mereka jadi lebih tahu apa yang kita inginkan dari pada diri kita sendiri, apakah nantinya akan ada setiap brand yang dibuat untuk masing-masing dari kita? Lalu muncul juga pertanyaan, apakah ketertarikan kita terhadap brand itu hanya berdasarkan indentifikasi yang dilakukan brand terhadap kita atau komunitas customernya?

Implikasi terhadap Micro Brand

Jadi siapa yang menang dalam dunia Micro Brand ini? Jejaring sosial yang benar-benar sosial (bukan yang news oriented) dan memunculkan sebuah penemuan Gaya Hidup adalah yang benar-benar cocok untuk dunia ini, dan tak ada yang lebih baik dari Instagram untuk hal ini. Namun ada juga kesempatan untuk Pinterest atau Tumblr misalnya atau platform serupa yang bisa memfasilitasi penemuan para micro brand ini. Dan isu mengenai Privasi data mungkin juga akan muncul dalam pembahasannya, seperti yang terjadi baru-baru ini dengan Facebook. Di sisi lainnya bagi penjual, pemenangnya tentu saja adalah desainer mereka (yang harus secara cepat mendevelop brand dan meproduksi desain yang muncul di permukaan), perusahaan seperti Shopify atau WooCommerce (yang dapat terintegrasi dengan jejaring sosial dan memberdayakan siapapun untuk menjadi merchant mereka), supplier-supplier kunci untuk sebuah micro brand seperti Aliexpress, Taobao atau mungkin marketplace lokal (yang menyediakan berbagai macam barang, terutama nilai plus bagi yang menyediakan packaging terpisah dengan nama merchantnya masing-masing), dan jasa fulfillment seperti Asia Commerce yang membantu berbagai kebutuhan logistic dan pengiriman. Sementara untuk VC atau Venture Capital, sepertinya masih belum dibutuhkan. Kebanyakan brand-brand kecil hampir tidak pernah mendapatkan atau membuka kesempatan pendanaan kepada Venture Capital.

Baca Juga: AsiaCommerce! Solusi Pengadaan Barang Impor dan Pengiriman Barang Expor-Impor Untuk Bisnis & e-Commerce Anda

Dari elemen-elemen diatas Designer sebenarnya mempunyai kesempatan spesial, karena mereka bisa jadi sumber ide dan motor penggerak dari brand itu sendiri. Jika anda sudah mempunyai Ide dan kreativitas layaknya desainer mungkin anda pun bisa memulai membuat micro brand anda. Jika belum anda dapat menggaet desainer untuk mengembangkan ide yang anda miliki. Sementara resource yang lain? Anda tinggal memilih, semua resource sebenarnya sudah tersedia, adalah keputusan anda untuk memulai micro brand anda dan terlibat dalam gelombang yang mungkin akan merubah budaya belanja dan pandangan orang terhadap brand dan produk.