Ada fenomena ekonomi yang menarik pada akhir-akhir ini di Indonesia. Satu persatu ritel mulai tutup, mulai dari 7-Eleven, Lotus, hingga Debenhams. Bahkan beberapa pusat perbelanjaan seperti Roxy, Glodok, Matahari, Ramayana mulai sepi pembeli. Apa yang terjadi?

Saya bukan seorang ekonom, jadi saya akan mengutip dari beberapa sumber terpercaya mengenai apa sebenarnya yang terjadi, dan pada akhir artikel ini saya coba memberi masukan bagi Anda, sebagai seorang entrepreneur, bagaimana untuk survive.

Benarkah daya beli masyarakat menurun ? Apakah ini terjadi hanya pada akhir-akhir ini saja ?

“Jadi kalau orang bilang daya beli turun, dari 10 tahun lalu iya. Tapi kalau cuma tiga tahun terakhir saya sebut itu stagnan di kisaran 5%,” ungkap Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, kepada detikFinance.

Sebenarnya kondisi ini sudah terjadi dari 10 tahun lalu, karena beberapa alasan :

  1. Bangsa ini terlalu bergantung pada harga komoditas, sedangkan pada akhir tahun 2012 harga komoditas anjlok.
  2. Guncangan pasar keuangan di Amerika yang membuat Rupiah kena dampaknya. Padahal beberapa barang seperti barang elektronik hingga kedelai kita masih impor.
peluang saat ritel banyak yang tutup
Credit : Detik Finance

Walau demikian konsumsi masyarakat masih di level 4.9% – 5%. Tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan masa kejayaan Indonesia di sekitar tahun 2006 dengan tingkat konsumsi masyarakat di level 5,3% – 5,5%.

Bagaimana dengan jaman now (istilah anak muda) ?

“Jadi begini daya beli masyarakat turun, penjualan secara online memang mempengaruhi toko ritel offline, mulai dari toko elektronik, fashion, sepatu, kosmetik dan industri tertentu sangat terganggu, semuanya migrasi ke online karena cost bisa lebih murah,” kata Jahja, Presiden Direktur BCA, dalam paparan kinerja di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (26/10/2017).

Baca juga : Kelebihan Bisnis Online Shop

Ada yang bilang ritel-ritel tersebut tutup karena terjadi shifting dari konvensional (offline) menjadi online. Benarkah ?

Berikut ada beberapa data yang “membantah” hal tersebut :

  1. Penjualan e-commerce hanya menyumbang 1,2% dari total GDP kita.
  2. Penjualan e-commerce hanya sekitar 0,8% dari total penjualan ritel nasional (2016).
  3. Untuk bisa belanja online dibutuhkan smartphone dengan harga minimal Rp.1 juta/unit. Hanya 43% pemilik smartphone di Indonesia (2016 – We Are Social).
  4. Baru sekitar 36% masyarakat yang bankable artinya memanfaatkan fasilitas perbankan atau dengan kata lain, “yang punya ATM”. Padahal untuk berbelanja online dibutuhkan produk perbankan sebagai alat pembayaran.
peluang saat ritel banyak yang tutup
Credit : We are social

Artinya masih sedikit yang berbelanja online !

Kalau konsumen tak lagi banyak belanja di gerai ritel konvensional dan masih sedikit yang belanja di gerai online, maka pertanyaannya, duitnya dibelanjakan kemana?

Sebenarnya income kelas menengah terus bertambah. Pendapatan terus mengalami peningkatan, apalagi yang terlibat investasi di pasar modal. Sekarang saja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang sampai ke level 6.000.

Nah.. Pendapatan bertambah tapi konsumsi berkurang, ada apa ? Ini lah yang disebut dengan perubahan gaya hidup. Perubahan gaya hidup seperti apa ?

  1. Mereka lebih banyak saving daripada spending. Ini karena kekuatiran mereka dengan berbagai kondisi yang tidak menentu di negara ini, seperti politik, ekonomi, perpajakan dan sebagainya.
  2. Pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini seperti berlibur (travel), menginap di hotel, makan di cafe / resto yang lagi hits, nonton film / konser musik, karaoke, nge-gym, wellness dan sebagainya. Dan ini semua didukung dengan munculnya Traveloka, Go Food, Instagram dan lain-lain.
peluang saat ritel banyak yang tutup
Credit : yuswohady

Benar tidak ? Coba perhatikan teman-teman di sekitar Anda. Bukankah ini yang sedang terjadi ?

Lalu apakah ini musibah atau berkah bagi bangsa kita umumnya dan kita khususnya ? Itu semua tergantung cara berpikir kita. Apakah kita sanggup melihat peluang disana ?

Berikut beberapa peluang yang mungkin bisa Anda lakukan : (Jika ada lagi, tolong tambahkan di kolom koemntar ya..)

1. Digitalisasikan bisnis Anda

peluang saat ritel banyak yang tutup
GatsuOne, koleksi fashion Jepang terbaik adalah salah satu contoh e-commerce.

Anda memiliki toko fashion atau toko elektronik atau industri lainnya ? Sekarang saatnya Anda perlu men-digitalisasikan bisnis Anda. Bangun juga e-commerce untuk produk Anda.

Salah satu partner DEID, Alpha Next, Digital Agency yang berlokasi di Surabaya ini menceritakan pada kami bahwa akhir-akhir ini banyak yang mulai membuat toko online. Mulai dari berjualan spare part motor, persewaan genset, sarung yang terkenal di Indonesia, penyedia besi-baja yang cukup besar di Indonesia Timur dan lain sebagainya.

Selagi belum terlalu banyak e-commerce di Indonesia, ini adalah peluang besar bagi Anda!

Baca Juga : Kapan Saat Tepat Untuk Membuat Website Ecommerce Anda Sendiri?

2. Tambahkan “experience” pada bisnis Anda

peluang saat ritel banyak yang tutup
Credit : LinkedIn

Seperti hasil kesimpulan diatas, gaya hidup mulai berubah dari goods-based consumption menjadi experience-based consumptionMulai pikirkan apa alasan mengapa konsumen perlu datang ke ritel kita ? Tentunya sesuatu yang tidak bisa dilakukan secara online tapi menambah experience yang unik untuk konsumen Anda. Seperti :

  • Tambahkan jasa “nail art” untuk ritel fashion Anda.
  • Tambahkan kafe kecil di ritel Anda yang instagramable.
  • Buat event “make over” bersama salah satu influencer di ritel fashion Anda.
  • Buat event “cooking training” untuk penjualan alat masak Anda.
  • Buat event sosial yang menarik.

Perlu Anda ketahui juga bahwa Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Baca Juga : 4 Ide Bisnis untuk Generasi Millennial yang Sangat Menguntungkan

3. Lakukan kolaborasi atau bundling

peluang saat ritel banyak yang tutup
Credit : Pinterest

Jika toko fashion Anda sepi, mungkin Anda perlu bekerja sama dengan penjual produk lain. Sebagai contoh :

  • Ada diskon khusus jika membeli celana jeans beserta kaos.
  • Ada bundling untuk penjualan “kado bagi pria” berupa kemeja, sepatu, kotak kado dan kartu ucapan.
  • Menjual kamera beserta SD Card dan camera case.
  • Menjual bola basket beserta tas olahraganya.
  • Dan sebagainya.

4. Manfaatkan Digital Marketing

Setelah Anda mempunyai dan mengimplementasikan ide-ide menarik, mulai dari mendigitalisasikan bisnis Anda, menambahkan “experience” di bisnis Anda serta melakukan bundling untuk produk Anda, yang Anda perlukan saat ini adalah segera publikasikan ke semua orang.

Cara yang paling murah dan mudah melakukan targeting adalah melaui dunia digital, karena itu lakukanlah digital marketing. Seperti email marketing, Facebook Ads, Instagram Ads, Google Adwords, dan sebagainya.

Baca Juga : Jasa Iklan Facebook Ads

5. Bisnis travel sangat menjanjikan

peluang saat ritel banyak yang tutup
Credit : hershegoes

Bisnis travel saat ini sangat menarik di Indonesia. Apalagi saat ini Indonesia sedang membangun branding-nya sebagai negara maritim dan pariwisata. itu mengapa banyak sekali infrastruktur yang dibangun untuk menghubungkan wilayah-wilayah di Indonesia.

Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah perekonomian Indonesia dimana pariwisata akan menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.

Apa yang bisa Anda lakukan :

  • Buat paket tour untuk tempat-tempat wisata di sekitar Anda.
  • Bangun guest house atau tempat belanja oleh-oleh.
  • Mulai promosikan bisnis Anda dengan membuat blog, media sosial atau website travel.

Baca Juga : Apakah website Anda siap untuk para wisatawan?

 

*Credit untuk Detik Finance dan Yuswohady untuk penyajian data-datanya.

Jangan lewatkan, Desember ini Rico Satria Candra, founder PlazaKamera.com, salah satu calon unicorn Indonesia akan hadir membeberkan kesuksesannya yang berawal dari AWARENESS dan ADAPTION, hingga akhirnya meraih ACHIEVEMENT yang luar biasa. Bagaimana menganalisa hal-hal di sekitar kita sehingga kita bisa menciptakan solusi terbaik bagi banyak orang? Jangan lewatkan, AWARE ADAPT ACHIEVE bersama Rico Satria Candra.

Klik gambar di bawah untuk registrasi.

calon unicorn indonesia
Aware Adapt Achieve with Rico Satria Candra