Ketika Anda sedang membangun sebuah startup, pertanyaannya adalah kapan saya harus launching produk saya? Bagaimana strateginya?

Nah sebelum masuk ke topik tersebut, ijinkan saya bercerita tentang sedikit pengalaman saya.

Sekitar 8-9 tahun yang lalu, saya tergabung dalam sebuah perusahaan yang sedang membangun sebuah project yang menarik, yaitu Wakuwakuw. Menurut saya Wakuwakuw sendiri mempunyai ide yang bagus yaitu menjadi media sosial bagi komunitas.

Pada saat itu media sosial yang cukup terkenal adalah Facebook dan Twitter. Saat itu Facebook adalah media sosial untuk berbagi profil pribadi & pertemanan. Sedangkan Twitter menjadi media sosial untuk berbagi pemikiran. Belum ada media sosial yang benar-benar fokus pada komunitas.

Singkat cerita, Wakuwakuw lenyap ditelan bumi sebelum terbang tinggi ke angkasa, walaupun sempat berganti nama menjadi Grouphub. Sudah pernah ikut pitching di TechinAsia, bahkan hingga ke Amerika Serikat. Bahkan senior programmer yang terlibat adalah orang-orang yang hebat menurut saya. Fitur-fiturnya pun mempunyai keunggulan lebih baik daripada fitur group di Facebook pada saat itu.

Wakuwakuw saat Pitching di Techinasia. Courtesy : Techinasia

Lalu mengapa koq gagal? Salah satu alasannya menurut saya adalah terlalu lama dalam fase develop dan terlalu lama untuk segera launching. Hampir 2-3 tahun untuk membangun produk tersebut. Facebook saja tidak sampai 1 tahun. Wakuwakuw baru di-launching saat semua fitur sudah hampir selesai. Dan ternyata tidak semua fitur dibutuhkan oleh pengguna.

Agar hal ini tidak terjadi pada startup Anda, Anda perlu mengenal apa itu MVP.

Baca Juga: Onlinestore.id, membuat toko online murah seharga beli KOPI sehari

Apa itu MVP ?

MVP (Most Viable Product) adalah teknik pengembangan dimana produk atau situs web yang baru dikembangkan dengan fitur yang cukup untuk memuaskan pengguna awal. Set fitur terakhir yang lengkap hanya dirancang dan dikembangkan setelah mempertimbangkan umpan balik dari pengguna awal produk.

Jika digambarkan kurang lebihnya seperti ini :

MVP – Most Viable Product

MVP itu harus kecil, unik, jelas, dapat digunakan tapi masih “malu-malu’in”. MVP bukan hanya kecil. MVP harus menggambarkan sedikit dari keseluruhan tujuan akhir dari produk. Kalau Anda tidak lagi malu dengan MVP yang Anda hasilkan, berarti Anda telah gagal. Mengapa ? Karena terlalu lama men-develop sehingga produk Anda benar-benar sudah jadi. Risikonya adalah saat sudah jadi “sempurna”, ternyata feedback dari pengguna pertama kurang baik.

MVP membantu menjawab pertanyaan paling penting tentang proyek Anda, jadi fokus di sini adalah pada visi Anda vs target pengguna Anda. Anda harus tahu bahwa nilai produk Anda memenuhi harapan pengguna. Inilah yang akan Anda temukan:

  • Kegunaan produk Anda bagi target pengguna Anda.
  • Bagaimana pengguna akhir menyukai ide Anda dan perwujudannya.
  • Akan ditemukan “cacat” pada produk saat digunakan.
  • Akan ditemukan daya tarik antarmuka dari pengguna.
  • Apakah semua fitur utama benar-benar diperlukan atau tidak.
  • Setiap fitur tambahan yang harus dilaksanakan sesegera mungkin.

Bagaimana proses MVP ?

Misal goal akhir kita adalah membuat mobil. Ada beberapa model yang biasanya dilakukan oleh startup pada umumnya :

Model 1 : Buat roda dulu, bodi, mesin dan seterusnya

Courtesy : Sugoilabs

Ini bukan MVP. Mengapa ? Karena setiap fase tidak dapat dilakukan testing. Pengguna pertama masih belum bisa memakai produk Anda pada saat di fase pertama. Bahkan sampai fase ketiga pun, mereka masih belum bisa memakainya.

Model 2 : Buat papan seluncur, sepeda, sepeda motor dan seterusnya

Courtesy : sugoilabs

Banyak juga yang mengatakan ini bahwa ini sudah termasuk MVP. Saya pribadi kurang setuju. Mengapa ? Karena ingat fokus kita adalah menghasilkan produk berupa mobil, bukan sepeda atau sepeda motor. Setiap fase masih melenceng dari produk akhir.

Model 3 : Buat mobil tanpa bodi belakang, mobil ban sederhana, dan seterusnya

Courtesy : Sugoilabs

Nah, kalau yang ini masih sesuai dengan MVP. Setiap fase sudah bisa digunakan oleh pengguna Anda sehingga mereka bisa memberi feedback. Dan dari fase pertama sudah ada gambaran sedikit tentang hasil akhir dari produk Anda. Tapi untuk model seperti ini pun masih ada sedikit kekurangan.

Baca Juga: 5 Blunder Fatal Startup Saat Gagal Membangun Bisnis, yang Wajib Anda Tahu!!!

Model 4 : Keunggulan di setiap fase

Hampir sama dengan model 3, hanya saja kita harus pastikan ada nilai lebih dari setiap fasenya. Ada keunggulan yang membuat pengguna berharap agar Anda segera menambah fitur atau kualitas dari produk Anda.

Yang harus Anda ingat!

  1. Tentukan goal Anda secara spesifik dan jelas
  2. Teknologi penting, tapi lebih penting lagi value bagi pengguna produk Anda
  3. Jangan terlalu lama di stage desain, segeralah tunjukkan ke pengguna, agar Anda mendapat feedback

Demikianlah pengalaman yang bisa saya bagikan ke Anda. Semoga berguna. Jika Anda punya pengalaman yang sama, Anda dapat menyampaikannya di kolom komentar.

Oh ya di Digital Entrepreneur.id ada kategori khusus untuk melihat Digital Technology terbaru dari para partner dan berbagai sumber. Semoga bermanfaat bagi Anda.