Pesona Bitcoin tengah merebak di kalangan masyarakat modern saat ini. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, nilai tukar digital ini hampir mendekati angka US$ 11.800 dan bertransformasi menjadi salah satu aset dengan nilai peningkatan paling tinggi. Meskipun demikian, ternyata legalitas Bitcoin masih belum mendapatkan titik temu di antara para pelaku bisnis. Ada sebagian yang menyetujui penggunaannya, namun tak sedikit juga yang masih setengah hati mengakui keabsahan Bitcoin.

Industri keuangan dan bisnis dunia memang tengah mengalami pro dan kontra karena kehadiran Bitcoin atau uang digital ini. Ada beberapa orang yang menyebutnya sebagai alat ‘penipuan’ dan ada juga yang menyatakan bahwa Bitcoin bisa dijual di bawah harga US$ 5000. Berbeda halnya dengan para pelaku bisnis yang pro atas Bitcoin ini, mereka malah memprediksi bahwa nilai tukar uang digital ini akan melesat hingga angka US$ 100.000 sebelum 2018 berakhir.

Baca juga : Nilai Tukar Mata Uang Digital Terjun Bebas dan Terpuruk

Faktanya, pada tahun 2017 lalu nilai tukar Bitcoin sempat bergerak naik turun. Menurut hasil yang dihimpun oleh CoinDesk, Bitstamp, Coinbase, Bitfinex dan itBit, nilai tukar Bitcoin saat itu sempat tercata melesat hingga posisi US$ 19.783 per keping atau sama dengan Rp.267,7 juta apabila menggunakan kurs Rp.13.500, tetapi malah merosot lagi ke posisi US$ 13.889 per keping atau Rp.187,5 juta untuk kurs yang sama. Beberapa pihak berpendapat, bahwa merosotnya nilai tukar Bitcoin ini terjadi sebelum dilakukan aksi jual oleh banyaknya spekulan. Tak hanya itu, nilai tukar Bitcoin turun drastis juga karena minat pengguna atas uang digital ini mulai bergeser ke jenis uang digital lainnya seperti Ripple, Litecoin, hingga Ethereum. Meskipun para pesaing Bitcoin ini belum terlalu populer, tetapi mereka disebut-sebut memiliki potensi yang tak kalah dengan Bitcoin. Berikut ulasannya untuk Anda.

  1. Ripple (XRP)
bitcoin
Ripple

Pesaing Bitcoin satu ini mulai dikembangkan sejak 2012 oleh mantan pengembang Bitcoin yang sejak awal dipertimbangkan dapat menjadi suksesor atas Bitcoin. Apalagi, Ripple sudah berhasil menjadi salah satu sistem pembayaran hingga pengiriman uang melalui bank yang ada di seluruh dunia. oleh karena itu, Ripple tak sekedar mata uang belaka, tetapi juga sistem yang memungkinkan tiap mata uang ditransfer atau diperdagangkan oleh siapa saja. Saat ini, Ripple diperdagangkan dengan nilai hampir lebih dari US$ 0,25 dan nilai market cap hingga US$ 9,82 miliar.

  1. IOTA (MIOTA)
bitcoin
IOTA

Belum banyak yang mengenal IOTA karena memang salah satu pesaing Bitcoin ini paling baru di bidang cryptocurrency. Tak seperti para pesaingnya, IOTA tidak bergantung pada jaringan blockchain, tetapi memanfaatkan alternatif lain yang diberi nama Tangle. IOTA diprediksi mampu menjadi marketplace pertama yang didukung oleh Internet of Things karena bermitra dengan Microsoft, Fujitsu, dan sejumlah perusahaan besar lainnya. Pada akhir 2017 lalu, nilai tukar IOTA mencapai nilai US$ 2,34 dengan nilai perusahaan mencapai US$ 6,75 miliar.

Baca juga : Hal Apa saja yang Perlu Anda Tanyakan untuk Bisa Memahami Bitcoin

  1. Ethereum (ETH)
bitcoin
Ethereum

Token ether ditulis dari jaringan blockchain bernama Ethereum seperti halnya Bitcoin. Ethereum mulai dikembangkan sejak 2014 oleh mantan penulis Bitcoin Monthly untuk melanjutkan desentralisasi. Tapi berbeda dengan Bitcoin, etherum bersifat terbuka karena platform software yang memakai ether untuk bertransaksi tak terpusat. Saat ini, etherum diperjualbelikan dengan nilai mencapai lebih dari US$ 472 dan untuk nilai keseluruhannya mencapai US$ 45,5 miliar.

  1. Dash (DASH)
bitcoin
Dash

Digital Cash merupakan kepanjangan dari mata uang digital ini setelah sempat berganti nama beberapa kali. Dash dinilai berbeda dengan para kompetitornya karena hanya fokus pada privasi dan transaksi anonim saja. Ada dua sistem yang mengoperasikan mata uang digital ini, yaitu miners dan masternodes, jaringan relawan yang menandai transaksi. Saat ini, nilai tukar Dash menyentuh angka US$ 777 dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar US$ 6 miliar.

  1. Litecoin (LTC)
bitcoin
Litecoin

Kompetitor Bitcoin lainnya yang disebut menjadi alternatif yang cukup murah ini merupakan hasil gagasan dari mantan karyawan Google, karena opsi mendapatkan uang digital ini dinilai lebih mudah. Litecoin menargetkan pada penjual yang membutuhkan volume besar dengan nilai transaksi kecil dan dapat diproses lebih cepat ketimbang berfokus pada transaksi dengan nilai besar. Di akhir 2017 lalu, nilai tukar Litecoin mencapai angka US$ 101 dengan kapitalisasi pasar hingga US$ 5,47 miliar.

Baca juga : Meningkatkan Penjualan dengan Cross Selling

Demikian ulasan singkat mengenai penyebab nilai tukar Bitcoin turun drastis pada 2017 lalu. Semoga bermanfaat.