Facebook telah mengumumkan jumlah kebocoran data yang diambil dan diolah oleh Cambridge Analytica. Asal muasal kebocoran masif data Facebook ini diungkap oleh Christopher Wylie, mantan kepala riset Cambridge Analytica, pada koran Inggris, The Guardian, Maret 2018 lalu.

Menggunakan aplikasi survei kepribadian yang dikembangkan Global Science Research (GSR) milik peneliti Universitas Cambridge, Aleksandr Kogan, data pribadi puluhan juta pengguna Facebook berhasil dikumpulkan dengan kedok riset akademis.

Dari 87 juta data yang bocor, lebih dari satu juta di antaranya adalah data pengguna Facebook di Indonesia. Indonesia menjadi negara ketiga yang menjadi korban terbanyak dengan 1,096 juta akun atau sekira 1,2 persen dari total korban yang ada.

data facebook
Wenseslaus Manggut, ketua umum AMSI, memiliki pandangan yang menarik atas bocornya data Facebook

Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wenseslaus Manggut, mengatakan peristiwa bocornya data Facebook menjadi momentum pemerintah untuk mengatur industri digital, tidak hanya membawa dampak negatif seperti yang santer diberitakan, hal ini juga membawa dampak positif.

“Ini kesempatan buat kita untuk mengatur industri ekonomi di Indonesia, ini industri (digital) banyak untung, ini segera diatur pemerintah dan DPR. Kalau pemerintah dan DPR hanya cemas, itu lebih mencemaskan,” kata Winseslaus kepada awak media di Jakarta, Sabtu (7/4/2018).

Baca juga : Akankah Nasib Facebook Berujung seperti Friendster???

Dia juga menyampaikan bahwa keberadaan industri digital bermanfaat bagi perusahaan periklanan mempublikasikan produknya di media sosial. Dari bobolnya data ini, pemerintah juga diminta tidak gegabah dan lantas memblokir Facebook.

Menurutnya, bahkan Facebook tidak khawatir apabila negara ingin memblokir media sosial tersebut.  Justru, kata beliau, Facebook cemas apabila ada perusahaan yang berhenti memasang iklan karena iklan tersebut tidak ingin berada satu wall dengan ujaran kebencian dan hoax.

“Dan yang untung juga publik, karena yang suka lari, olahraga, masa dikasih iklan Indomie, saya maunya iklan olahraga, saya dapat sesuatu yang berguna. Jadi kalau kita sembarang nutupnya kita rugi juga disitu,” ujarnya.

Wens menilai bahwa ketika membuat akun Facebook, secara tidak langsung masyarakat sukarela memberikan informasi pribadinya. Dan wajar bila Facebook sebagai industri digital akan memanfaatkan data tersebut untuk bisnisnya.

Baca juga : Facebook Terapkan Third Party Fact Checking untuk Antisipasi Bisnis Hoax

Menurutnya, salah satu kelemahan Indonesia adalah hanya mengatur industri media tetapi tidak perusahaan teknologi seperti media sosial dan mesin pencari kata.  “Ini harus didudukkan dengan jernih karena media sosial menggunakan tools data yang perlu regulasi,” ujarnya.

Sebagai organisasi yang menaungi pengelolaan media-media siber yang profesional, berintegritas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik, AMSI siap bekerjasama dengan semua pihak untuk membantu meningkatkan kredibilitas informasi yang disebarkan melalui media sosial.