Saat ini kita tengah berada di era Revolusi Industri Ke-4 (Industry 4.0). Dimana era ini diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, inovasi, dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan eksponensial yang akan mengakibatkan dampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan dan politik.

Guna menghadapi era digital saat ini, Kementerian Perindustrian telah menyusun roadmap (peta jalan) Industry 4.0 dengan menetapkan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan dan prioritas dalam pengembangannya.

Hal ini selaras dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 2015. Kelima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, otomotif, elektronika, tekstil, dan kimia. “Jadi lima sektor industri ini yang akan fokus dikembangkan oleh pemerintah dalam menghadapi era digital yang perkembangannya sangat cepat,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara melalui keterangan resmi, Jumat (23/2/2018).

Baca juga : Sudahkah Anda Tahu Jika Saat Ini Kita Tengah Berada di Revolusi ke-4 Industri Teknologi???

revolusi industry 4.0
Saat ini kita tengah berada di era Revolusi Industri Ke-4 (Industry 4.0).

Ngakan menjelaskan, kelima sektor industri yang diunggulkan untuk memasuki Industri 4.0 tersebut, selama ini berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Misalnya, industri makanan dan minuman yang memiliki pangsa pasar dengan pertumbuhan mencapai 9,23% pada tahun 2017. Selain itu, industri tersebut menjadi penyumbang terbesar dalam produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas hingga 34,33% di tahun 2017.

“Peranan industri makanan dan minuman juga tampak dari sumbangan nilai ekspor produknya, termasuk minyak kelapa sawit yang mencapai 31,7 miliar dollar AS pada tahun 2017 dan mengalami neraca perdagangan surplus bila dibandingkan dengan nilai impornya sebesar 9,6 miliar dollar AS,” papar Ngakan.

Guna mempercepat pertumbuhan kelima sektor industri tersebut, lanjutnya, berbagai teknologi pendukung Industry 4.0 seperti Internet of Things (IoT), Advance Robotic, Artificial Intelligence, dan Additive Manufacturing akan diimplementasikan. “Tujuannya adalah untuk mencapai peningkatan produktivitas dan efisiensi yang tinggi serta kualitas produk yang lebih baik melalui pemanfaatan teknologi terkini secara optimal,” tambahnya.

Bahkan, menurut Ngakan, upaya tersebut dilakukan guna menangkap peluang pembangunan ekonomi digital di Indonesia yang besar, seperti pada tahun 2030 jumlah penduduk usia produktif akan mencapai di atas 60%, internet telah menjangkau lebih dari setengah populasi Indonesia. Kemudian, peningkatan jumlah kelas menengah diperkirakan mencapai 135 juta orang, dan peningkatan permintaan produk digital.

Baca juga : Startup Indonesia Tak Perlu Izin, Cukup Daftar Online dan Registrasi

revolusi industry 4.0
Guna menghadapi era digital saat ini, Kementerian Perindustrian telah menyusun roadmap (peta jalan) Industry 4.0 dengan menetapkan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan dan prioritas dalam pengembangannya.

Transformasi struktural dari sektor pertanian ke sektor industri juga telah meningkatkan pendapatan per kapita dan mengantarkan masyarakat Indonesia dari agraris menuju ekonomi yang mengandalkan proses peningkatan nilai tambah berbasis industri, nantinya juga bakal diakselerasi oleh perkembangan teknologi digital.

“Tentunya hal ini dapat dicapai apabila semua komponen bangsa bekerja sama untuk membangun industri yang kuat, berdaya saing, berkelanjutan dan inklusif,” tegas Ngakan.

Baca juga : 10 Kota Terbaik Dunia untuk Mengembangkan Perusahaan Digital

Sebagai tambahan, guna menghadapi revolusi industry 4.0, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek teknologi. Sebab penguasaan teknologi menjadi kunci utama untuk menentukan daya saing Indonesia di era industry 4.0.

Dan dalam menghadapi industry 4.0 ini, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Sebab jika tidak ditingkatkan, maka industri Indonesia akan semakin tertinggal dari negara-negara lainya. Jika tidak melakukan peningkatan kemampuan dan daya saing di sektor (industri) prioritas, kita bukan saja tidak akan mampu mencapai aspirasi, namun akan digilas oleh negara negara lain yang lebih siap di pasar global maupun domestik.

 

(Sumber: Kompas.com & Antaranews.com)