Generasi millennial merupakan sebuah istilah yang berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Generasi millennial ini adalah mereka yang lahir mulai periode tahun 1980-an hingga awal 2000-an, yang terlahir ketika teknologi sedang berkembang begitu pesatnya. Khususnya teknologi informasi yang berkembang dengan signifikan dan massive, informasi bisa diterima dan dikirimkan dengan begitu cepat tanpa batasan waktu dan tempat. Tentu dengan kemajuan teknologi ini, manusia merasa terbantu dan dimudahkan dalam berkomunikasi satu dengan lainnya. Sekarang semua hanya membutuhkan sentuhan jari pada gadget dan dapat mengakses segala sesuatu informasi yang mereka inginkan. Dengan demikian, bukan berarti kemajuan teknologi informasi tidak memiliki kelemahan atau sisi negatif. Banyaknya kasus kekerasan yang terjadi pada anak melalui internet sebagai pemicunya, sejak tahun 2011 hingga 2014 dilansir kominfo.go.id mencapai angka 322 kasus dan ada juga pelaku kejahatan seksual online sebanyak 42 kasus. Angka ini menunjukan angka yang cukup tinggi dan yang lebih bahayanya lagi ialah generasi millenial rentan akan hoax. “Generasi millenial adalah yang paling rentan terhadap bahaya hoax. Sangat disayangkan jika Indonesia yang harusnya bisa menikmati ‘bonus’ demografi di 2030 nanti, malah diisi oleh orang-orang yang tidak cerdas dalam bermedia sosial.” Demikian pernyataan Septiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Indonesia Anti-Hoax. Hoax adalah berita atau informasi palsu atau bohong yang disebarkan yang kemudian dipercaya oleh mereka yang menerima hal tersebut, ini kemudian menjadi sangat amat berbahaya karena pada umumnya hoax disebarkan karena ingin memberikan kecemasan pada diri masyarakat, memecah belah bangsa, dan menggiring opini publik ke arah yang dituju oleh sebuah oknum baik itu perorangan atau kelompok. Melihat hal ini, generasi millenial yang di dalamnya juga banyak terdapat para entrepreneurs harus dapat meminimalisir penyebaran dan menghindari hoax yang banyak bertebaran di masyarakat melalui sosial media.

Mari entrepreneurs, kita menjadi bijak dalam beraktivitas di sosial media baik dalam menerima atau mengirimkan informasi bersama-sama mengatasi fenomena hoax yang tidak bisa dipandang sebelah mata ini. Berikut adalah kiat-kiat agar terhindar dari hoax :

  • Hati-Hati Dengan Judul Yang Provokatif

Kecenderungan masyarakat dalam melihat dan menerima berita hanya sekedar judulnya saja tanpa membaca isi berita hingga tuntas dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab akan hal ini. Dibuatlah judul-judul yang provokatif dan memancing persepsi yang dikehendaki oleh oknum tersebut. Dengan judul yang sensasional, eye catching dengan penggunaan kata-kata yang dapat menimbulkan reaksi emosional yang cepat, diharapkan mereka yang memang menjadi target dari hoax ini menelan mentah-mentah informasi tersebut dan bereaksi sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka dari itu, apabila kita melihat judul-judul seperti itu ada baiknya kita mencari referensi berita sejenis akan tetapi dari situs online yang resmi atau kredibel. Dengan demikian kita dapat membandingkan apakah isinya memang begitu adanya atau benar-benar jauh berbeda dari fakta yang ada.

  • Cermati Alamat Situs

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia sudah terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim diri mereka sebagai portal berita. Parahnya, dari angka tersebut tidak sampai 300 situs yang terverifikasi sebagai situs berita resmi. Yang berarti sisanya kemungkinan besar berpotensi untuk menyebarkan hoax dan hal ini harus diwaspadai oleh kita semua.

Baca Juga: Facebook Terapkan Third Party Fact Checking, Tak ada Lagi Bisnis Hoax???

 

  • Periksa Fakta

Fakta merupakan sebuah aspek penting dalam sebuah informasi, karena fakta biasanya menjadi sebuah poin penting terkait informasi tersebut hoax atau tidak. Masyarakat sudah semakin kritis dan cerdas, maka mari kita manfaatkan untuk melakukan pengecekan ulang tentang apa-apa saja yang diberitakan pada sebuah situs. Terlebih apabila informasi yang disampaikan itu oleh perorangan seperti, tokoh politik, pengamat, dan sejenisnya yang kemungkinan besar akan lebih menunjukan sisi subjektifitas mereka pada sebuah peristiwa dengan opini yang tentunya memiliki tujuan terentu.

 

  • Cek Keaslian Foto

Pernahkah kamu menemukan sebuah foto dengan caption yang bersebrangan dengan fakta pada foto itu sendiri? Semisal foto gunung meletus di Amerika Selatan dan kemudian foto tersebut diambil dan diunggah ulang dengan caption yang berbeda, yang betujuan untuk memberikan informasi yang salah dan mencemaskan masyarakat luas. Hal ini hanya sedikit banyak contoh yang sudah terjadi, apalagi teknologi untuk melakukan editing pada foto maupun video sudah semakin canggih. Dan manipulasi pun besar peluangnya untuk terjadi tanpa tanggung jawab yang jelas.

  • Jangan Terburu-Buru Untuk Sharing

Ketika kita mendapatkan informasi, biasanya hal yang sering kita lakukan adalah sesegera mungkin memforward atau share informasi tersebut kepada teman-teman, keluarga, komunitas, dan lain lain. Celakanya, kita melakukan sharing information tanpa tahu apakah hal tersebut benar sesuai fakta, didapat dari sumber yang valid dan kredibel. Jadi alangkah lebih bijaknya jika kita tidak menyebarluaskan informasi atau berita yang belum tentu kita ketahui kebenarannya.